Kemajuan Teknologi Bisa Jadi Ancaman, Etika Komunikasi Jadi Sorotan 

PRINDONESIA.CO | Minggu, 14/11/2021
Masih sedikit praktisi PR yang memiliki pengetahuan mumpuni mengenai etika komunikasi.
Dok. PR INDONESIA

Apa jadinya apabila perkembangan teknologi baru yang begitu dinamis tidak diimbangi dengan etika berkomunikasi yang mumpuni? Inilah potret yang terjadi saat ini.

 JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Ada banyak temuan menarik dalam riset Asia-Pacific Communication Monitor 2020/2021. Survei ini diikuti oleh 1.155 responden dari kalangan komunikasi profesional yang berada di 15 negara se-Asia Pasifik. Hasilnya disampaikan oleh Prof. Jim Macnamara, Chairman Asia Pacific Communication Monitor, di acara Indonesia Public Relations Research Forum (IPRRF), Kamis (11/11/2021).

Tercatat 38,1 persen responden sepakat isu yang paling penting untuk manajemen komunikasi hingga 2023 adalah berhadapan dengan evolusi digital dan social web. Diikuti dengan penggunaan big data dan algoritma untuk komunikasi (36.9%), membangun dan mengelola kepercayaan (34,3%), memperkuat peran dari fungsi komunikasi untuk mendukung keputusan manajemen (31,8%), serta berurusan dengan sustainable development dan tanggung jawab sosial(29,9%).  

Meski demikian, kata Macnamara, isu strategis dari komunikasi manajemen yang meningkat paling tinggi hampir setiap tahun adalah penggunaan big data dan algoritma untuk komunikasi, membangun dan mengelola kepercayaan. Serta, hal yang terkait sustainable development dan tanggung jawab sosial.

Sementara itu, saluran komunikasi dan metode yang diyakini paling penting di masa depan adalah media sosial dan jejaring sosial, komunikasi mobile baik berupa telepon, tablet, aplikasi, mobile website. Sedangkan saluran lainnya, terus mengalami penurunan. Antara lain media on-line, cetak, majalah, komunikasi melalui website, email, intranet, bahkan komunikasi secara tatap muka. Pun demikian dengan events, nonverbal communication, hingga media internal.

Minim Pengetahuan

Penemuan menarik lainnya adalah terkait tingginya penggunaan teknologi baru seperti bot, big data, algoritma yang menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi para praktisi komunikasi. Terutama soal etika komunikasi di era baru.  

Adapun tantangan etika yang saat ini dihadapi para praktisi komunikasi di antaranya menggunakan bot untuk mendapatkan feedback (umpan balik) dan meningkatkan followers (pengikut) di media sosial.  Di samping, menghasilkan umpan balik, mengeksploitasi data pribadi melalui analisis big data, mendorong karyawan untuk menyebarkan informasi/pesan organisasi melalui akun media sosial masing-masing, mengunggah konten dan artikel bersponsor/berbayar baik di media sosial maupun situs web dengan tampilan layaknya konten biasa, membayar influencer.

Sayangnya, kata Macnamara, masih sedikit praktisi PR yang memiliki pengetahuan mumpuni mengenai etika komunikasi di era teknologi baru. Survei menunjukkan 69,9 persen responden mendapatkan pelatihan atau kelas etika komunikasi hanya pada saat mereka masih duduk di bangku kuliah. Sebanyak 30,1 persen tidak pernah sama sekali mengikuti kelas atau pelatihan etika komunikasi.

“Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa yang menjadi concern kita bersama bukan hanya menerapkan teknologi baru yang merupakan tren di masa depan,” uarnya.  “Tapi, juga concern untuk meningkatkan pelatihan etika komunikasi dan kompetensi menggunakan data serta teknologi,” imbuhnya.  

Hadir pada acara tersebut CEO International PR Research Conference Don Stacks, Corporate Communications Director Danone Indonesia Arif Mujahidin, Direktur Komunikasi, Bank Indonesia Junanto Herdiawan, Ketua BPP Perhumas Agung Laksamana, Ketua APPRI Jojo S. Nugroho, serta founder dan CEO PR INDONESIA Group Asmono Wikan. (rtn)