Ini Tahapan Mengelola Isu

PRINDONESIA.CO | Kamis, 16/11/2023 | 3.079
Empat tahap mengelola isu agar tidak menjadi krisis.
Foto Freepik

Manajemen isu menjadi bagian penting yang harus dikelola oleh praktisi public relations (PR). Sehingga, isu tidak berkembang menjadi masalah yang lebih serius.

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Saat mengisi in-house training PT Pemodalan Nasional Madani (PNM) bekerja sama dengan PR INDONESIA secara daring, Kamis (15/6/2023), Haviez Gautama, Ketua Bidang Komunikasi Publik dan Kehumasan BPP PERHUMAS, menyoroti betapa pentingnya public relations (PR) menerapkan strategi yang efektif dalam menghadapi isu.

Menurut pria yang juga merupakan Head of Corporate Communications PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (Harita Nickel) itu, isu terjadi karena adanya perbedaan pendapat atau pandangan antara perusahaan dengan pemangku kepentingannya.

Sebenarnya, kata Haviez, ada banyak opsi yang bisa dipilih oleh PR untuk merespons isu sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih serius. Salah satunya, melalui pendekatan penerapan model proses manajemen isu.

Tentukan Skala Prioritas

Tahap pertama untuk menerapkan model tersebut adalah mengidentifikasi isu. Untuk dapat mengidentifikasi isu, praktisi PR harus lebih dulu memiliki pemahaman yang mendalam tentang berbagai hal yang berkaitan dengan industri di perusahaannya. Haviez memberi contoh, sebagai perusahaan beroperasi di industri jasa keuangan dan dikenal memiliki regulasi ketat, maka isu-isu yang bisa berkembang di organisasi seperti PNM di antaranya keluhan nasabah hingga praktik manipulasi (fraud).

Menurut pria yang sudah lebih dari 23 tahun berpengalaman di bidang manajemen reputasi, komunikasi korporat, PR, marketing communications, hingga media relations tersebut, ada berbagai cara yang bisa dilakukan oleh PR untuk mengidentifikasi isu secara dini. Antara lain, memantau kegiatan, regulator, organisasi, situasi politik, serta membaca literatur. Identifikasi isu bisa dilakukan dengan banyak mendengar. Contoh, mendengar keluhan nasabah baik yang diterima melalui call center maupun yang disampaikan lewat berbagai saluran komunikasi.

Tahap kedua, melakukan analisis. Analisis yang dimaksud menyangkut berbagai pihak yang terlibat dalam isu tersebut, pihak yang terkena dampak, memiliki minat terhadap isu perusahaan, hingga pihak yang memiliki posisi untuk memengaruhi opini publik. Tahap ketiga, menentukan prioritas isu. Tahap ini, menurut pria yang sebelumnya merupakan Director of Communications Tanoto Foundations tersebut, menekankan pentingnya PR dalam mengukur skala isu. Pengukuran skala dilakukan untuk menentukan suatu isu perlu mendapatkan perhatian, sekadar diketahui, atau perlu dipertanyakan kebenarannya.

Tahap keempat, menentukan prioritas isu. Untuk menentukan prioritas isu, PR dapat membuat peringkat isu. Semakin tinggi peringkat suatu isu, semakin besar pula tanggung jawab PR untuk memantau perkembangan isu tersebut. Caranya, kata Haviez, bisa dilakukan dengan mengadakan survei yang melibatkan partisipasi berbagai pihak, menelaah hasil analisis media massa dan sosial, hingga menggunakan teknik delphi yang melibatkan berbagai pandangan dari para ahli.

Di samping itu, upaya untuk menentukan prioritas isu juga dapat dilakukan dengan memantau tren yang berkembang, mengembangkan skenario yang mungkin terjadi, dan pendekatan bellwether atau indikator yang menunjukkan kemungkinan adanya suatu tren. Di fase ini, Haviez menggarisbawahi pentingnya PR memiliki kedalaman wawasan dan kepekaan. “PR harus mampu memprediksi sejauh mana isu tersebut dapat berkembang dan seberapa besar dampak yang mungkin dihasilkan jika isu tidak dikelola dengan baik,” katanya. Kemampuan ini, menurutnya, tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus didukung oleh berbagai kompetensi teknis lainnya. Salah satunya, keterampilan menulis. (jar)