Kontribusi AI untuk Pembangunan Berkelanjutan

PRINDONESIA.CO | Rabu, 22/11/2023
Teknologi kecerdasan buatan ternyata turut berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan.
Dok. Freepik.com

Selain meningkatkan efisiensi dalam bekerja, artificial intelligence (AI) juga berdampak terhadap pembangunan berkelanjutan. Kok bisa?

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Penggunaan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kian hari kian marak. Teknologi ini tidak hanya membantu pekerjaan manusia menjadi lebih efisien, tapi juga berdampak positif bagi pembangunan keberlanjutan.

Hal ini terungkap dalam  World Economic Forum (WEF) seperti yang disiarkan dalam laman resminya, weforum.org.  Di sana, WEF merangkum empat kontribusi AI dalam meningkatkan pembangunan berkelanjutan. Antara lain, inovasi untuk solusi keberlanjutan, mengatasi risiko iklim dengan AI, manajemen dan pengukuran dampak, peran AI dalam pergeseran persepsi. Berikut uraiannya:

1. Inovasi untuk Solusi Keberlanjutan

Menurut Utusan Khusus Presiden AS untuk Iklim, John Kerry, 50 persen dari pengurangan karbon yang dibutuhkan untuk mencapai net zero emission (NZE) akan berasal dari teknologi. Selain pengurangan karbon, peran penting inovasi, terutama dalam perusahaan rintisan (startup) tahap awal, sangat penting untuk mencapai 17 tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).

Beberapa perusahaan yang sudah memanfaatkan AI sebagai inovasi untuk solusi keberlanjutan, salah satunya adalah Stream Ocean. Perusahaan teknologi berkelanjutan itu berupaya mengatasi SDGs yang berkaitan dengan kehidupan di laut. Stream Ocean menggunakan AI dan machine learning untuk pemantauan keanekaragaman hayati laut secara real-time melalui kamera video bawah air. Teknologi ini membantu proyek restorasi terumbu karang dengan menyediakan analisis data laut yang canggih, termasuk metrik keanekaragaman hayati.

Selain itu, ada Pano AI. Perusahaan teknologi yang berbasis di San Fransisco, Amerika Serikat ini memanfaatkan AI untuk mendeteksi, memverifikasi, dan mengklasifikasikan peristiwa kebakaran hutan secara real-time.

2. Mengatasi Risiko Iklim dengan AI

Tingginya potensi bencana selama 50 tahun ini membuat investor mencari cara untuk menilai paparan risiko perubahan iklim dalam portofolio mereka. Salah satunya dengan memanfaatkan teknologi AI yang mampu menganalisis kumpulan data yang sangat besar, termasuk data iklim dan keuangan, untuk mengidentifikasi risiko iklim dan peluang investasi.

BlackRock adalah salah satu perusahaan manajemen aset dan investasi asal New York, Amerika Serikat, yang telah mengintegrasikan algoritma AI untuk mengukur dan melacak jejak karbon dari investasi. Mereka juga menggunakan alat AI Aladdin Climate untuk mengukur risiko dan peluang iklim dalam hal keuangan.

3. Manajemen dan Pengukuran Dampak

Agar dapat meningkatkan efisiensi dan ketepatan dalam melakukan penilaian terkait pengukuran dampak secara transparan dan akuntabel, saat ini stakeholder di tiap perusahaan mulai memanfaatkan dan mengintegrasikan penggunaan AI.

Komisi Eropa (European Commission/EC), misalnya, telah secara aktif menggunakan kerangka kerja Impact Management & Measurement (IMM) untuk melacak dan mengukur dampak dan kemajuan yang terkait dengan SDGs poin ke-6, khususnya yang berfokus pada akses ke air bersih dan fasilitas sanitasi yang lebih baik.

4. Peran AI dalam pergeseran persepsi

Selain membawa dampak pada efisiensi operasional bisnis, AI juga hadir sebagai katalisator yang kuat untuk membentuk kembali cara pandang masyarakat terhadap nilai-nilai keberlanjutan. AI menumbuhkan kepercayaan dan mendorong inovasi, menjadi kekuatan penting dalam mengarahkan jalan kolektif kita menuju masa depan yang berkelanjutan.

Pemanfaatan yang bijak dan berkelanjutan dari teknologi ini ternyata dapat memberikan solusi inovatif untuk tantangan lingkungan dan sosial. Adanya perpaduan AI dan pembangunan berkelanjutan juga telah memberikan harapan untuk masa depan yang lebih baik. (mfp)