Communications Director Danone Indonesia Arif Mujahidin mencontohkan, kisah tentang seorang anak yang terselamatkan berkat sebuah produk nutrisi medis akan bisa jauh lebih efektif membentuk kepercayaan dibandingkan deretan data uji klinis yang dingin.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Dalam praktik public relations (PR) dikenal adanya pendekatan hipnosis dan hipnoterapi. Dijelaskan oleh Communications Director Danone Indonesia Arif Mujahidin, pendekatan tersebut berfokus pada cara menyampaikan pesan komunikasi yang tidak hanya menyasar pikiran sadar, tetapi juga menjangkau pikiran bawah manusia melalui reservoir pengalaman, emosi, dan sistem kepercayaan yang diaktifkan lewat simbol, cerita dan bahasa yang tepat.
Teknik hipnoterapi, kata Arif, menitikberatkan kekuatan narasi yang menyentuh sisi manusiawi audiens. Sebagai contoh, kisah tentang seorang anak yang terselamatkan berkat sebuah produk nutrisi medis akan bisa jauh lebih efektif membentuk kepercayaan dibandingkan deretan data uji klinis yang dingin. “Emosi yang dibangkitkan dari cerita dan suara narator, hingga visual yang menyentuh dapat menciptakan ruang resonansi yang lebih dalam di benak audiens,” tulisnya dalam majalah PR INDONESIA edisi 115 Juli-Agustus 2025.
Efektivitas pendekatan tersebut, lanjut Arif, diperkuat oleh penelitian di bidang neurosains yang menyebut bahwa komunikasi tidak sekadar proses transmisi informasi. Penelitian Dr. Uri Hasson dari Princeton University menunjukkan, ketika seseorang menyampaikan cerita yang kuat, aktivitas otak komunikator dapat tersinkronisasi dengan pendengarnya. Dalam konteks PR, sinkronisasi tersebut membuka peluang untuk membangun kedekatan emosional antara brand dan publik, bukan melalui persuasi langsung tetapi lewat pengalaman cerita yang terasa personal.
Seni Membentuk Persepsi
Di tengah maraknya gelombang disinformasi dan menguatnya era post-truth, Arif menyoroti kemampuan merancang pesan bawah sadar sebagai senjata penting. “Praktisi PR modern dituntut untuk memahami psikologi audiens, membaca pola komunikasi media, hingga merancang narasi yang mampu menembus lapisan kritis dan membentuk kepercayaan bertahap,” jelasnya.
Pandangan tersebut diperkuat oleh psikiater dari Stanford University sekaligus pakar hipnosis klinis David Spiegel. Ia menekankan, komunikasi efektif berangkat dari pemahaman tentang cara kerja pikiran, baik pada level sadar maupun tidak sadar. Menurut Spiegel, pesan yang kuat lahir dari perpaduan teknik komunikasi sadar seperti konferensi pers, laporan kinerja dan pernyataan publik dengan strategi komunikasi bawah sadar yang mengandalkan, emosi, metafora, simbol dan ritme naratif.
Pada akhirnya, menurut Arif, praktik PR bukan hanya soal menyampaikan informasi atau seberapa keras pesan disampaikan di ruang publik. Lebih dari itu, PR adalah seni membentuk persepsi, mengelola pesan, dan mengukir narasi yang bekerja di balik kesadaran audiens. (EDA)
- BERITA TERKAIT
- Perkuat Kapasitas Komunikasi Publik Pimpinan, Jakpro Gelar Pelatihan Direksi
- Membentuk Kepercayaan Publik Melalui Komunikasi yang Menyentuh Alam Bawah Sadar
- Tentang Hal yang Penting Dipahami Praktisi PR
- Buktikan Konsistensi Implementasi KIP, PTPP Kembali Raih Predikat Informatif
- Berkaca Pada Sumatera, Dompet Dhuafa Dorong Komunikasi yang Tepat dan Empatik