Perhutani BKPH Gelar Komunikasi Sosial, Ingin Pastikan Dukungan Warga

PRINDONESIA.CO | Kamis, 29/01/2026
Perhutani Bagian Kesatuan Pengelolaan Hutan (BKPH) Tumpuk Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Purwodadi dalam kegiatan komunikasi sosial bersama masyarakat Desa Tegalrejo, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Selasa (27/1/2026).
doc/perhutani

Perhutani BKPH Tumpuk berharap kemitraan dengan masyarakat Desa Tegalrejo semakin solid sehingga pengelolaan hutan dapat berjalan secara berkelanjutan, aman, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.

PURWODADI, PRINDONESIA.CO – Pengelolaan hutan yang berkelanjutan tidak dapat dilepaskan dari komunikasi yang inklusif dan kolaboratif dengan masyarakat desa hutan. Prinsip tersebut yang dikemukakan jajaran Perhutani Bagian Kesatuan Pengelolaan Hutan (BKPH) Tumpuk Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Purwodadi, dalam kegiatan komunikasi sosial bersama masyarakat Desa Tegalrejo, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Selasa (27/1/2026).

Dalam kesempatan tersebut Kepala Perhutani BKPH Tumpuk Aries Supriyanto menjelaskan, komunikasi sosial menjadi langkah penting dalam membangun kolaborasi yang harmonis antara Perhutani dan masyarakat desa hutan. “Melalui pendekatan kegiatan komunikasi sosial, kami berharap setiap program Perhutani termasuk agroforestry dapat dipahami dan mendapat dukungan dari masyarakat,” ujarnya dilansir dari laman resmi perhutani.co.id, Selasa (27/1/2026).

Pelibatan Masyarakat

Dalam kesempatan yang sama, Ketua LMDH Sumber Jati Mulyo Yana menyampaikan apresiasi atas komitmen Perhutani dalam menjalin komunikasi yang baik dengan masyarakat desa hutan. Menurut Yana, komunikasi sosial ini dapat membuat masyarakat merasa lebih dilibatkan dan memahami pengelolaan hutan yang dilaksanakan oleh Perhutani.

Efektivitas pendekatan yang dijalankan Perhutani BKPH Tumpuk dapat ditakar dengan merujuk temuan dalam penelitian bertajuk Participatory Communications in the Strengthening Community-Based Forest and Watershed Management Program (SCBFWW) on Dieng Plateu  (2018) karya Aminah Swarnawati.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan aktif masyarakat melalui komunikasi partisipatif berperan signifikan dalam meningkatkan efektivitas program konservasi dan pengelolaan sumber daya alam. Dalam konteks ini, dialog yang setara dan berkelanjutan tidak hanya memperkuat dukungan masyarakat, tetapi juga mendorong rasa kepemilikan bersama terhadap keberlanjutan kawasan hutan. (EDA)