Perkuat Kepercayaan Pelanggan, Perumda Tirtanadi Akan Tambah Dua Sumber Mata Air

PRINDONESIA.CO | Senin, 08/06/2026
Langkah Perumda Tirtanadi menambah dua sumber mata air baru tidak hanya ditujukan untuk memperkuat layanan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan pelanggan di tengah keluhan terkait distribusi air bersih.
Dok. Freepik

Perumda Tirtanadi menambah dua sumber mata air baru untuk mengatasi krisis pasokan air di Berastagi. Langkah tersebut tidak hanya ditujukan untuk memperkuat layanan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan pelanggan di tengah keluhan terkait distribusi air bersih.

MEDAN, PRINDONESIA.CO Perumda Tirtanadi menambah dua sumber mata air baru di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, sebagai langkah memperkuat pasokan air bersih sekaligus mengatasi krisis layanan yang sebelumnya sempat dikeluhkan pelanggan. Upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan kapasitas air baku dan menjaga kontinuitas distribusi kepada masyarakat.

Langkah penambahan sumber air dilakukan menyusul menurunnya debit sejumlah mata air yang selama ini menjadi andalan pasokan air bersih bagi pelanggan di wilayah Berastagi. Kondisi tersebut berdampak pada terganggunya distribusi air dan memicu keluhan masyarakat terkait layanan yang diterima.

Direktur Utama Perumda Tirtanadi Ardian Surbakti melalui Plt Kepala Cabang Berastagi Harapenta Tarigan menyampaikan, pihaknya telah melakukan survei di dua lokasi, yakni Desa Sempajaya, Kecamatan Berastagi dan Desa Jaranguda, Kecamatan Merdeka. “Hasil survei menunjukkan potensi debit air di Desa Jaranguda sekitar 4 liter per detik, sementara di Sempajaya mencapai 10 liter per detik,” ujar Harapenta Tarigan, dilansir Metro Daily, Rabu (29/4/2026).

Saat ini, kata dia, proses pengembangan kedua sumber mata air tersebut masih berada pada tahap penyelesaian administrasi dan pengujian kelayakan. Perumda Tirtanadi menargetkan sumber air baru tersebut sudah dapat beroperasi dan dimanfaatkan pada 2026.

Tambahan pasokan air dari kedua sumber tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemenuhan kebutuhan pelanggan di kawasan Sempajaya dan Jaranguda. Selain itu, kapasitas layanan juga direncanakan menjangkau sejumlah wilayah lain, antara lain Jalan Udara, Desa Tangkulen, Lau Gumba, serta Jalan Veteran.

Sembari menyiapkan solusi jangka panjang tersebut, Perumda Tirtanadi tetap melakukan langkah penanganan darurat melalui distribusi air bersih menggunakan dua armada mobil tangki setiap hari. Layanan itu beroperasi mulai pukul 08.00 hingga 20.00 WIB untuk melayani pelanggan yang terdampak gangguan pasokan air.

Menjaga Kepercayaan Publik

Dari perspektif komunikasi korporat, langkah Tirtanadi menambah dua sumber mata air baru tidak hanya merupakan respons teknis terhadap krisis pasokan air, tetapi juga bagian dari strategi komunikasi krisis untuk menjaga kepercayaan publik. 

Dalam organisasi layanan publik, masyarakat tidak hanya menilai kemampuan institusi menyelesaikan masalah, tetapi juga bagaimana organisasi menjelaskan penyebab krisis, menyampaikan perkembangan penanganan, serta menunjukkan komitmen terhadap perbaikan layanan.

Kajian Situational Crisis Communication Theory (SCCT) yang dikembangkan oleh W. Timothy Coombs menjelaskan, respons organisasi terhadap krisis harus mampu mengurangi ketidakpastian dan melindungi reputasi institusi melalui komunikasi yang tepat kepada para pemangku kepentingan. Dalam konteks layanan publik, strategi tersebut menjadi penting untuk mempertahankan legitimasi dan kepercayaan masyarakat ketika terjadi gangguan layanan.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa transparansi komunikasi memiliki pengaruh signifikan terhadap efektivitas penanganan krisis. Studi yang dilakukan oleh Kumalasari dkk bertajuk How Digital Communication Transparency and Public Trust Shape Crisis Communication through Public Engagement (2024) menemukan bahwa keterbukaan informasi mampu meningkatkan keterlibatan publik dan memperkuat efektivitas komunikasi krisis, terutama ketika organisasi mampu membangun ruang dialog dengan masyarakat yang terdampak.

Sejalan dengan itu, temuan serupa juga disampaikan Derrick Holland dkk dalam risetnya berjudul Practicing transparency in a crisis: Examining the combined effects of crisis type, response, and message transparency on organizational perceptions (2021).

Penelitian itu menunjukkan bahwa pesan yang transparan cenderung menghasilkan persepsi organisasi yang lebih positif dan meningkatkan kredibilitas institusi saat menghadapi krisis. Transparansi dinilai menjadi faktor penting dalam membangun kembali kepercayaan publik ketika terjadi gangguan layanan atau kondisi darurat. (Fadhil Pramudya)