Ketiga praktisi komunikasi senior menyepakati bahwa praktisi komunikasi perlu berhenti memandang AI sebagai alat bantu yang berada di luar fungsi komunikasi dan mulai mempersiapkan diri menghadapi risiko fatal akibat kesalahan teknologi.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Ketika penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menjadi bagian yang tak terpisahkan dari praktik kerja komunikasi, publik pun menjadi semakin kritis dan bahkan cenderung tidak mudah percaya dengan apa yang disampaikan.
Hal ini tentu menghadirkan tantangan tersendiri bagi praktisi komunikasi dalam mengelola kepercayaan publiknya. Untuk itu, terdapat setidaknya tiga hal yang perlu diperhatikan agar implementasi AI dalam kerja sehari-hari tidak menggerus kepercayaan publik. Dilansir dari PR Daily, Selasa (29/9/2026), berikut uraiannya.
1. Perlu Terlibat dalam Pengambilan Keputusan
Chief Marketing Officer Code for America Arlene Corbin Lewis menilai, penggunaan AI dalam mengambil keputusan di dalam organisasi semakin berkembang, bahkan kerap dilakukan sebelum praktisi komunikasi dilibatkan. Dalam konteks ini, ia mengingatkan bahwa fungsi dan peran tim komunikasi harus dilibatkan sebelum AI digunakan. “Tim yang mampu mengantisipasi hal ini pada 2027 adalah mereka yang bersikeras terlibat sejak awal ketika AI berpotensi memengaruhi fungsi komunikasi,” jelasnya.
2. Jadikan Transparansi Sebagai Bagian dari Operasional
Menurut Chief Reputation and Strategy Officer RepTrak Stephen Hahn, kepercayaan dan keterbukaan tidak bisa dipandang sebagai sesuatu yang dapat dibangun hanya melalui pesan komunikasi yang dibuat AI. Kepercayaan, tegasnya, perlu diperoleh dari waktu ke waktu melalui rangkaian interaksi dinamis dan humanis antara perusahaan dengan publik yang melibatkan pengalaman nyata.
3. Persiapkan Penanganan Kesalahan AI Sejak Dini
Chief Communications Officer Hachette Book Group Gabrielle Gambrell menekankan pentingnya panduan mengenai penggunaan AI sejak awal. Menurutnya, di era sekarang, setiap orang tidak bisa lagi antipati terhadap AI. Namun, tegasnya, adopsi penggunaannya itu harus dibarengi dengan upaya memastikan bahwa organisasi tetap mampu menjelaskan setiap keputusan, mempertanggungjawabkan informasi yang disampaikan serta menjaga kepercayaan ketika teknologi terlibat dalam proses komunikasi. “Sebab, kecepatan dan kemudahan dari teknologi tidak menghilangkan kebutuhan akan pertimbangan manusia, hubungan yang autentik dan tanggung jawab korporasi,” pungkasnya.
Dari ketiga langkah di atas diharapkan praktisi komunikasi tidak lagi didorong untuk sekaligus menjadi ahli teknologi, tetapi memanfaatkan produk dari teknologi tanpa mengesampingkan tanggung jawab dan sisi humanis yang telah dimiliki. (Evira Anyelia)
- BERITA TERKAIT
- 3 Hal untuk Hadapi Risiko Merosotnya Kepercayaan Publik di Era AI
- Catat! Ini 4 Dampak Komunikasi Defensif Antikritik
- Situs APCR Resmi Diluncurkan, Siap Gerakkan Ekosistem Kebijakan, Bisnis & Komunikasi Kawasan
- Jebakan Komunikasi Defensif Antikritik Sang Pemimpin Negara
- Mengenal SA-5P Framework, Strategi Ampuh untuk Komunikasi Digital