
Belum selesai rasanya membahas tentang PR 4.0, namun PR sudah dihadapkan dengan ingar bingar Pemilu 2019. Bagaimana cara menghadapinya agar komunikasi brand tetap mendapat atensi?
JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Hal ini terkemas apik dalam Perhumas Coffee Morning di Financial Club CIMB Niaga, Jakarta (24/1/2019). Acara yang bertajuk ‘Public Relations, Media, and Political Trends of 2019’ menyingkap tentang betapa sulitnya sebuah pesan komunikasi untuk masuk ke benak publik. “Ya setiap hari kita terekspos sekitar 10 ribu iklan. Namun hanya berapa yang kita ingat?” ujar Agung Laksamana, Ketua Umum PERHUMAS. Ditambah gempuran teknologi membuat publik menjadi ‘kelebihan informasi’.
Menurutnya merupakan tantangan tersendiri untuk PR agar brand nya tetap diingat apalagi di tengah ingar bingar tahun politik ini. Agung pun memberikan tips untuk praktisi PR dalam mengomunikasikan brand di tahun ini
1. Komunikasi harus berbasis business outcome.
PR tak hanya soal aktivasi brand dan media relations, namun harus bisa menyelaraskan programnya dengan bisnis. Program PR harus memberikan dampak kepada bisnis perusahaan.
2. Kenali audiens
Kita harus mengetahui audiens dari segi demografi, geografi, dan psikografi. Ya, seorang humas tak cukup hanya bicara reputasi, namun harus cakap memetakan segmentasi, targeting, dan positioning
3. Pahami PESO media
Paid, earned, shared, dan owned media. PR sekarang adalah produser dan publisher.
4. Keep It Short and Sweet (KISS)
Penyampaian pesan bisa melalui video yang menarik. Mengingat waktu atensi yang berkurang, yang diutamakan adalah pesan yang disampaikan lewat durasi singkat. Agung menambahkan agar jangan menambahkan atribut yang dapat diasosiasikan dengan politik. Sebagai tambahan seorang PR tak lagi ‘think out of the box’ melainkan ‘think like no box’. Artinya, kreatifitas tidak memiliki batas
5. Humanize your brand
Hal ini dapat dilakukan dengan interaksi dengan audiens di media sosial agar mereka merasa dilibatkan dan diperhatikan
6. Menjadi storyteller
Menceritakan sesuatu yang kompleks melalui perumpamaan sehingga lebih sederhana hingga mudah dicerna publik
7. Utamakan karyawan
Kadang PR menyepelekan komunikasi internal karena disibukkan oleh hal-hal eksternal. Komunikasi dengan karyawan harus dijaga sehingga visi dan misi perusahaan sampai ke tingkatan paling bawah
8. Formula
Right content + right people + right time + right channel + personalization
Agung mengatakan bahwa ia menambahkan personalization karena seseorang akan lebih mengapresiasi pesan yang ditujukan khusus untuknya, bukan yang bersifat mass content. (rvh)
- BERITA TERKAIT
- 4 Pendekatan PR untuk Merespons Perubahan Lanskap Media
- 4 Saran dari Praktisi Komunikasi Profesional untuk Tingkatkan “Skill” Menulis
- 4 Kiat Praktis Penggunaan AI untuk Kesuksesan PR
- 5 Langkah Memastikan Teks Hasil AI Lebih Berkualitas
- 5 Kesalahan Umum yang Sering Bikin Strategi PR Gagal