
Dalam mengelola stakeholder, berkomunikasi publik saja tidak cukup. Namun, harus disertai dengan engagement.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Inilah yang diungkapkan pakar stakeholder management Herry Ginanjar dalam gelar wicara virtual Ngobrol di CPROCOM, Kamis (25/3/2021). Pria lulusan Master of Business Administration SBM ITB ini mengatakan, dulu ia mengira tugas humas hanya berelasi dengan media. Ternyata, lebih dari itu.
Pemangku kepentingan atau stakeholder tidak hanya sebatas pada media. Berbeda dengan audiens yang berperan menerima pesan, stakeholder merupakan pihak yang memperoleh dampak dari perusahaan maupun organisasi. Dan, sebaliknya—stakeholder memberi dampak bagi perusahaan.
Stakeholder bisa merupakan pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, hingga media. Untuk memastikannya, PR harus melakukan pemetaan (stakeholder management), berikut perannya. Contoh, pemerintah sebagai regulator sementara masyarakat sebagai bagian dari lingkungan operasi perusahaan.
Karena sasarannya berbeda-beda, oleh karenanya praktisi PR tidak dapat membuat satu paket komunikasi untuk banyak orang. Sebaliknya, membuat strategi komunikasi yang berbeda untuk masing-masing stakeholder yang disasar. “Jika berkomunikasi kepada audiens biasanya hanya satu arah. Berbeda dengan stakeholder, komunikasinya dua arah,” ujar Herry.
Komunikasi dua arah itu harus membentuk yang namanya engagement. Maka, alih-alih berkomunikasi satu arah, praktisi PR justru harus lebih banyak menggunakan telinga untuk mendengarkan ekspektasi stakeholder. Misalnya, ketika perusahaan mengurus izin operasional, PR harus mendengar untuk mengetahui ekspektasi pemerintah sebagai regulator, dinas lingkungan hidup, dan masyarakat.
Ketika perusahaan mewujudkan ekspektasi itu, urusan perizinan pun manjadi jauh lebih lancar. Dengan mendengarkan dan terjun ke lapangan, PR juga dapat melalukan fungsinya yang lain, yakni pemetaan isu.
Manfaat lain dari pemetaan, kata Herry, praktisi PR dapat sekaligus melakukan pengelompokkan stakeholder terdiri dari stakeholder yang mendukung, netral, maupun kontra terhadap keberadaan perusahaan. “Kepada yang kontra, kita bisa menggandeng orang ketiga atau influencer sebagai penjembatan komunikasi,” ujarnya.
Pengukuran
Sementara itu, ada empat level untuk mengukur positioning perusahaan di mata stakeholder. Level pertama, frekuensi berkomunikasi. Semakin sering perusahaan berkomunikasi dengan stakeholder, maka semakin baik nilainya di mata stakeholder.
Kedua, tingkat penerimaan. Untuk mengetahui tingkat penerimaan bisa dilihat dari banyaknya pertemuan dan respons yang diberikan oleh stakeholder.
Ketiga, cooperation. Level ini diukur dari bagaimana perusahaan berkolaborasi dan bersinergi dengan stakeholder. Tolok ukur keberhasilannya dapat dilihat dari banyaknya jumlah kesepakatan dan pertemuan yang sudah dilakukan.
Keempat, tingkat kepercayaan. Cara pengukurannya dapat dilakukan menggunakan survei. (rvh)
- BERITA TERKAIT
- 4 Pendekatan PR untuk Merespons Perubahan Lanskap Media
- 4 Saran dari Praktisi Komunikasi Profesional untuk Tingkatkan “Skill” Menulis
- 4 Kiat Praktis Penggunaan AI untuk Kesuksesan PR
- 5 Langkah Memastikan Teks Hasil AI Lebih Berkualitas
- 5 Kesalahan Umum yang Sering Bikin Strategi PR Gagal