Dimas Yuliharto, LPS: Menjadi Humas yang Visioner

PRINDONESIA.CO | Selasa, 19/10/2021
“Upaya meningkatkan literasi keuangan harus ditingkatkan. Tidak hanya mengenai produk, namun juga risikonya,
Ardhi Hikari/LPS

Dimas boleh saja baru bergabung dan bersentuhan langsung dengan dunia kehumasan sejak mendapat amanah sebagai Sekretaris Lembaga, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), April 2021 lalu. Namun, ia termasuk sosok yang cepat beradaptasi.

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Padahal, pemilik nama lengkap Dimas Yuliharto tersebut tidak memiliki latar belakangan atau pengalaman di dunia public relations (PR) atau komunikasi. Diam-diam, ia sudah sedari lama memerhatikan peran dan gerak-gerik humas, bahkan sebelum humas menjadi divisi seperti sekarang.

Pria asal Surabaya, Jawa Timur, ini merasakan peran humas begitu krusial saat mendapat amanat mengelola bagian likuidasi. Humas adalah ujung tombak LPS agar masyarakat tidak panik ketika ada bank yang dicabut izinnya. Sebab, simpanan mereka dijamin LPS. Jika kembali pada sejarah, inilah alasan dibentuk LPS.

Tentu, kita tidak ingin peristiwa ketidakpercayaan terhadap keamanan dan sistem perbankan terulang lagi hingga menyebabkan negeri ini mengalami krisis ekonomi dan lonjakan inflasi seperti yang terjadi pada tahun 1998. Kepada seluruh jajarannya ia pun merapatkan barisan. Memperkuat fungsi dan peran humas agar dapat memberikan kontribusi yang optimal bagi lembaga. Kepada Ratna Kartika dari PR INDONESIA via virtual, Selasa (14/9/2021), ia berkisah.

Apa isu yang dihadapi LPS di masa pandemi? 

Kami berhadapan dengan tiga isu selama pandemi. Pertama, kami harus tetap meningkatkan awareness tentang keberadaan LPS bahwa kami selalu ada untuk masyarakat. Kedua, di masa pandemi ini, berdasarkan UU No 2 Tahun 2020, kami mendapat tambahan kewenangan baru yang tadinya hanya lost minimizer menjadi risk minimizer. Dengan adanya fungsi baru ini, LPS tidak hanya menjamin dan memberikan resolusi likuidasi, tapi sudah bisa masuk di awal ketika bank yang bersangkutan bermasalah. Ketiga, tetap menjalankan tugasnya meliterasi keuangan masyarakat meski di tengah pandemi.

Tentu bukan perkara mudah. Seperti dialami oleh public relations (PR) pada umumnya, kami juga dituntut untuk mampu menjawab segala tantangan sehingga dapat menyampaikan informasi, memberikan pemahaman, edukasi, termasuk menyosialisasikan amanah baru ini kepada masyarakat dengan segala keterbatasan selama pandemi.

Bagaimana solusinya? 

Kami beradaptasi dan membiasakan diri untuk melakukan/mengadakan pertemuan secara virtual. Meski sense-nya terasa berbeda ketika komunikasi dilakukan secara virtual. Namun, setelah dijalani, hikmahnya juga banyak.

Kami malah bisa lebih sering bertemu. Sebab, peserta tinggal membuka link, kita bisa langsung terhubung. Kami juga bisa menjangkau audiens lebih luas, tidak terbatas wilayah atau daerah. Kami juga merasa semakin kreatif karena ditantang untuk menghadirkan pertemuan yang informatif, menarik dari segi tema, dikemas secara memikat, interaktif, tapi juga mengikat (engaging). Salah satunya, membuat gimmick seperti kuis di tengah acara. 

Lainnya, pola mengonsumsi media yang telah berubah ke digital membuat kami aktif berinovasi dengan memaksimalkan keberadaan teknologi digital. Langkah ini kami lakukan tak lain agar dapat tetap terhubung dengan stakeholder LPS. Kami juga mengemas konten kekinian yang menarik sehingga mudah diterima dan dipahami oleh mereka ke dalam berbagai format mulai dari artikel, video, foto, infografis, hingga banyak lagi.

Langkah tersebut sekaligus bertujuan untuk mengantisipasi penyebaran informasi yang masif dan berpotensi menimbulkan isu-isu negatif. Selain itu, kami juga berkolaborasi dengan regulator dan industri perbankan. Khususnya, untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan.