Enam Pilar Transformasi Kesehatan Menuju Jalan Perubahan

PRINDONESIA.CO | Kamis, 02/12/2021
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyerukan seluruh insan Kesehatan untuk menempuh jalan perubahan dengan cara melakukan transformasi sistem kesehatan Indonesia.
Dok. Kemenkes RI

Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-57 yang diperingati pada 12 November 2021 menjadi momentum penyatuan tekad dan semangat bahu-membahu menyelesaikan pandemi COVID-19. Sekaligus, momentum transformasi kesehatan.  

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Hal ini disampaikan oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di hadapan insan Kementerian Kesehatan di Jakarta, Jumat (12/11/2021). Menurutnya, pandemi COVID-19 yang mengguncang sistem kesehatan global mengantarkan dunia kesehatan kepada dua pilihan. Yakni, mempertahankan status quo atau memilih perubahan.

Status quo, kata Menkes Budi, membawa kepada berbagai masalah kesehatan yang tak kunjung reda. Mulai dari angka kematian ibu dan bayi selama proses kehamilan dan melahirkan, stunting, hingga masyarakat yang menderita akibat penyakit menular maupun tidak menular. “Selama hampir dua tahun, pandemi COVID-19 telah menguji status quo dari sistem kesehatan kita,” ujarnya.  

Namun, jika harus memilih, maka ia akan memilih jalan perubahan. Jalan untuk mengubah pola yang lama, meninggalkan kebiasaan buruk dalam bekerja, serta jalan untuk mengawali pola hidup yang sehat mulai hari ini. “Saya, bersama Presiden RI Joko Widodo, memilih jalan yang kedua. Jalan perubahan,” katanya.

Sebab, Menkes Budi melanjutkan, pandemi selain menjatuhkan korban, juga telah membuka kesempatan kepada bangsa ini untuk memperbarui dan menyempurnakan sistem kesehatannya. “Inilah momentum bagi kita untuk mengoreksi apa yang bisa kita lakukan ke depan,” ujarnya.

Enam Pilar

Jalan perubahan itu diwujudkan dengan melakukan transformasi sistem kesehatan Indonesia. Kementerian Kesehatan mencanangkan enam pilar transformasi kesehatan. Pilar pertama, transformasi layanan primer. Yakni, transformasi untuk meningkatkan layanan promotif dan preventif, seperti memperkuat upaya pencegahan, deteksi dini, promosi kesehatan, membangun infrastruktur, melengkapi sarana, prasarana, SDM, serta memperkuat manajemen di seluruh layanan primer di tanah air.

Pilar kedua, transformasi layanan rujukan. Dengan cara meningkatkan akses serta mutu rumah sakit Indonesia melalui program sister hospital dengan rumah sakit internasional, pengembangan Center of Excellence, sistem pengampuan rumah sakit, serta pendidikan dan penelitian. “Upaya ini harus dilakukan sehingga seluruh rakyat Indonesia bisa dengan mudah mendapatkan layanan dengan kualitas yang baik, tanpa perlu lama mengantre, apalagi sampai harus berobat ke luar negeri,” ujarnya.

Pilar ketiga, transformasi sistem ketahanan kesehatan. Yakni, dengan mendorong kemandirian farmasi dan alat kesehatan dalam negeri, serta meningkatkan jejaring surveilans dan persiapan tenaga kesehatan cadangan dalam merespons ancaman krisis kesehatan. “Negara ini selain dikaruniai oleh banyak sumber daya alam juga sering mengalami bencana baik alam maupun nonalam. Oleh karena itu, kita harus memiliki sistem ketahanan kesehatan yang selalu siap dan siaga setiap kali ada bencana,” katanya.

Pilar keempat, transformasi pembiayaan kesehatan. Upaya ini dilakukan dengan menata ulang pembiayaan dan manfaat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), serta meningkatkan proporsi pembiayaan layanan promotif dan preventif melalui penambahan layanan penyaringan (screening) dasar bagi seluruh rakyat Indonesia. Menurut Menkes Budi, transformasi di sistem pembiayaan kesehatan ini harus bisa menciptakan sistem yang berkesinambungan dan masuk akal. Terutama, sistem pembiayaan yang bisa memberikan layanan adil dan merata bagi seluruh rakyat Indonesia, tapi juga dalam skala yang bisa ditanggung secara berkesinambungan oleh negara.

Pilar kelima, transformasi SDM kesehatan, dengan meningkatkan kuantitas, distribusi, dan kualitas tenaga kesehatan, melalui beasiswa, pemberdayaan diaspora kesehatan, dan pertukaran tenaga profesional kesehatan dengan mitra internasional. Menkes Budi tak memungkiri, hingga saat ini masih banyak masyarakat yang belum bisa mendapatkan akses ke dokter dan pelayanan yang layak dari tenaga kesehatan, terutama yang tinggal di pelosok daerah. “Ke depan, kita harus dapat memastikan jumlah, sebaran hingga kualitas dari tenaga kesehatan mencukupi untuk memberikan layanan dan akses kepada seluruh rakyat Indonesia,” imbuhnya.

Terakhir, pilar keenam, adalah transformasi teknologi kesehatan. Terdiri dari transformasi teknologi informasi dan bioteknologi. Menkes Budi mengatakan, transformasi teknologi meliputi big data, kecerdasan buatan, internet of things adalah keniscayaan. Selain itu, sudah terbukti mampu mentransformasi banyak industri. Oleh karenanya, ia meyakini, dengan adanya kemajuan teknologi inforamsi, ke depan industri kesehatan juga akan mengalami transformasi secara masif. Baik dari sisi  diagnosis, screening, maupun penyampaian dari layanan kesehatan.

Sementara transformasi dari sisi bioteknologi di mana pengobatan nantinya akan jauh lebih personal, tepat dan teliti, serta sifatnya jauh lebih preventif. Pengobatan yang tadinya berbasis kimia atau radiologi pelan-pelan akan bergeser berbasis bioteknologi. Meski begitu, kata Menkes Budi, Indonesia patut bersyukur. Sebab, negeri ini diberkahi keanekaragaman hayati dan biodiversitas yang luar biasa. Menurutnya, kekayaan biodiversitas dan keragaman genomika ini akan sangat menentukan bagi Indonesia sebagai salah satu produsen dari obat-obatan atau pengobatan berbasis bioteknologi.

“Dengan memulai transformasi di sistem kesehatan  Indonesia, mari kita menunjukkan kepada dunia bahwa negeri ini juga bisa membawa perubahan bagi sistem kesehatan global,” katanya. Sekaligus, lanjutnya, untuk memastikan bahwa anak, cucu, hingga anak dari cucu bangsa ini, akan jauh lebih siap dibandingkan kita apabila mereka berhadapan dengan pandemi berikutnya.

Rangkul Semua Pihak

Bersamaan dengan itu, tak lupa Menkes Budi menyampaikan terima kasih secara pribadi dan juga institusi kepada seluruh insan kesehatan di tanah air. Sebab, menurutnya, negeri ini tidak dapat mengendalikan pandemi hingga sejauh ini tanpa  dukungan dan kerja keras mereka.

Di satu sisi, ia juga mengingatkan agar tetap waspada menyambut libur Natal dan tahun baru. Belajar dari pengalaman yang lalu, lonjakan kasus terjadi setelah libur panjang. Untuk itu, kata Menteri  Budi, tetap disiplin memakai masker, segera divaksin bagi belum, gunakan aplikasi PeduliLindungi ketika ada di ruang publik, dan tetap menjalankan testing and tracing kepada orang yang bergejala dan kontak erat.

Kegiatan HKN yang tahun ini mengusung tema “Sehat Negeriku, Tumbuh Indonesiaku”, membawa semangat untuk merangkul masyarakat, dunia usaha, profesional, mitra, organisasi, hingga tokoh masyarakat dalam berbagai kegiatan. Antara lain, seminar ilmiah, kegiatan pengabdian masyarakat meliputi pelaksanaan vaksinasi dan penyerahan bantuan untuk masyarakat. Lalu, lomba dan olahraga sekaligus memasyarakatkan kegiatan hidup sehat, kegiatan publikasi dan penghargaan khususnya bagi tenaga kesehatan yang telah berjuang menangani COVID-19, mengenang pahlawan di bidang kesehatan, hingga upacara peringatan HKN yang diikuti oleh peserta dari seluruh Indonesia. (adv)