Hadapi Dinamika Global, Dunia Pertambangan Indonesia Butuh Komunikasi Intensif

PRINDONESIA.CO | Selasa, 27/01/2026
Ketua Umum Indonesian Mining Association (API-IMA) Rachmat Makassau saat memberikan sambutan dalam acara Indonesia Weekend Miner 2026, Sabtu (24/1).
doc/ECOBIZ.ASIA

Direktur Jenderal (Dirjen) Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tri Winarno menegaskan, komunikasi yang intensif dan melibatkan stakeholder menjadi kunci untuk menemukan solusi atas berbagai isu strategis industri pertambangan.

JAKARTA, PRINDONESIA.CO –  Menghadapi dinamika global yang semakin kompleks, industri pertambangan nasional menegaskan pentingnya komunikasi yang intensif dan kolaboratif sebagai elemen strategis untuk memperkuat sinergi antarpemangku kepentingan. Hal ini ditekankan oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tri Winarno dalam forum Casual Mining Dialogue bertajuk Tantangan Dunia Pertambangan RI Menyikapi Dinamika Global gelaran Indonesian Mining Association (API-IMA) di Jakarta, Sabtu (24/1/2026).

Menurut Tri, intensitas komunikasi di dunia pertambangan saat ini perlu didukung oleh penguatan dan perluasan keterlibatan lebih banyak stakeholder. Diketahui dunia pertambangan tanah air tengah menghadapi sejumlah isu seperti dinamika kebijakan hilirisasi, hingga peningkatan investasi dan daya tarik sektor pertambangan. “Terhadap berbagai isu yang muncul akhir-akhir ini, kami terus berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait agar dapat ditemukan penyelesaian atau solusi yang tepat,” ujarnya di hadapan sekitar 150 peserta, dilansir dari ECOBIZ.ASIA, Sabtu (24/1/2026).

Oleh karena itu pula, lanjut Tri, forum Casual Mining Dialogue dapat dilihat sebagai wadah strategis untuk menyelaraskan arah kebijakan strategi industri pertambangan nasional sepanjang tahun 2026. Dalam kegiatan ini, turut dibahas komitmen pelaku industri untuk tetap mengedepankan penerapan prinsip good mining practices, green mining, serta environmental, social, and governance (ESG) sebagai fondasi keberlanjutan industri pertambangan nasional yang selaras dengan agenda hilirisasi dan meningkatkan nilai tambah mineral.

Pria pemegang gelar Doctor of Philosophy (Ph.D) di bidang Mining and Mineral Engineering itu menilai, kolaborasi yang solid antara pemerintah dan pelaku industri menjadi kunci agar sektor pertambangan Indonesia tetap berdaya saing, adaptif terhadap dinamika global, serta mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.

Kolaborasi Solid

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Indonesian Mining Association (API-IMA) Rachmat Makassau menegaskan, mitra pemerintah seperti salah satunya asosiasi yang ia pimpin, harus terus berkomitmen mendukung arah pengembangan sektor pertambangan nasional yang berkelanjutan dan kompetitif. “Untuk itu, API-IMA menghadirkan kegiatan ini yang diharapkan menjadi momentum refleksi bersama untuk menemukan langkah yang strategis dalam menghadapi tantangan industri,” harapnya.

Dalam konteks pendekatan collaborative governance, apa yang menjadi fokus Tri maupun Rachmat selaras dengan temuan penelitian bertajuk Collaborative Governance Dalam Penertiban Pertambangan Galian C Ilegal Di Kabupaten Kampar (2025) karya Elisabeth Panjaitan dan Hasim As’ari. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pengelolaan sektor pertambangan sangat ditentukan oleh  proses kolaboratif antarpihak seperti pemerintah, komunitas, pelaku usaha, dan masyarakat, dengan topangan komunikasi yang terbuka, kepercayaan serta transparansi. (EDA)