Membawa Pesan Komunikasi yang Jernih Jelang Pemilu 2024

PRINDONESIA.CO | Kamis, 12/10/2023
Di tengah keruh dan riuh rendahnya pesan-pesan komunikasi yang berseliweran di jagat politik, menciptakan kejernihan sungguh patut dilakukan. Kejernihan yang bermula dari cara pandang hingga pesan yang dikomunikasikan.
Dok. Freepik.com

Setiap tahun politik bergulir, salah satu isu besar yang muncul ke permukaan adalah upaya menciptakan pesan yang kuat dan sampai ke target khalayak yang dituju.

Ingar bingar kampanye politik memang membuat pesan-pesan komunikasi makin sulit menjangkau audiens dengan efektif. Butuh kerja keras yang ekstra untuk memastikan pesan tersebut tidak hanya sampai ke audiens, melainkan juga dipahami dengan baik dan selanjutnya memberikan dampak. Salah satunya menyalurkan suara ke partai politik yang sedang berkampanye.

Periode kampanye komunikasi politik seperti itu selalu berulang lima tahunan, sesuai dengan amanat konstitusi UUD 1945. Lantaran itu, seyogianya para komunikator politik sudah mempersiapkan dengan baik strategi kampanye komunikasi yang hendak dilakukan untuk menyukseskan kandidasi yang sedang mereka persiapkan. Membuat kampanye komunikasi yang efektif dan berdampak kuat bagi kandidat politik yang jelas bukan perkara mudah. Apalagi jika sang kandidat punya masa lalu yang cukup kelam. Entah karena pernah terlibat kasus pidana, atau sengketa perdata yang berujung rusaknya reputasi personal.

Di tengah keruh dan riuh rendahnya pesan-pesan komunikasi yang berseliweran di jagat politik, menciptakan kejernihan sungguh patut dilakukan. Kejernihan yang bermula dari cara pandang hingga pesan yang dikomunikasikan. Jernih melihat situasi, lalu mengambil posisi yang tepat. Jernih merangkai tujuan fundamental bagi kepentingan publik. Bagi republik, bukan semata bagi pribadi semata.

Berkomunikasi di masa kandidasi pemilu jelas butuh kerja ekstra. Pesan yang jernih, hanya salah satu elemen. Sementara kanal komunikasi adalah elemen lainnya yang menopang pesan sampai ke target audiens. Menentukan target pemilih sebagai khalayak komunikasi juga memerlukan kejernihan. Siapa mereka? Sejauh mana mereka bisa dijangkau dengan pesan-pesan yang dikomunikasikan? Medium apa yang tepat dan relevan? Mungkinkah membuat medium alternatif yang lebih efektif ketimbang memanfaatkan medium konvensional? Dan, masih banyak pertanyaan yang bisa diajukan untuk menguji kejernihan rencana pesan komunikasi sang kandidat.

Bukan Logistik Semata

Kejernihan pesan komunikasi membutuhkan waktu dan energi untuk dipikirkan. Dirancang matang supaya tidak gagal. Agar lebih maksimal. Karena bakal menghabiskan logistik yang tidak sedikit. Bolak-balik mengotak-atik rancangan-rancangan tersebut jauh lebih bijak ketimbang hantam kromo membanjiri banyak kanal media dengan pesan-pesan yang tunggal, serampangan, tanpa mempertimbangkan relevansi target audiens pemilihnya.

Kejernihan pesan yang relevan bagi audiens target adalah hasil dari rencana dan pikiran jernih si kandidat dalam menyapa calon pemilihnya melalui riset yang mendalam. Melalui riset yang cukup mendalam, keinginan dan harapan audiens tentang pesan-pesan komunikasi pun terkuak ke permukaan. Bahkan perilaku dan karakter mereka lebih mudah dibaca. Sehingga bisa menjadi pedoman merancang pesan-pesan politik yang lebih efektif dan efisien.

Pada akhirnya, dalam kandidasi politik, bukan sekadar siapa yang memiliki logistik lebih banyak. Apa artinya logistik berlimpah tanpa mampu mengelolanya dengan baik untuk keberhasilan kampanye komunikasinya kepada calon pemilih secara efektif? Berfoya-foya dengan logistik sudah bukan masanya lagi dalam berkampanye di periode pemilu. Ada banyak cara yang lebih bijak dan tentu saja efisien serta berdampak bagi sang kandidat. Terlebih di era yang sangat digital ini.

Jernihlah berpikir dan bertindak, hasilnya pun bakal terlihat lebih optimal. Target khalayak tergapai, logistik pun tak sampai tercerai-berai. Tabik! (Asmono Wikan)