4 Cara Memperkuat Kreativitas dengan AI

PRINDONESIA.CO | Jumat, 06/03/2026
Ilustrasi AI
Pavel Danilyuk via Pexels

Alih-alih bertanya apa yang akan diambil AI dari kita, penting untuk bertanya apa yang bisa kita ciptakan dan bayangkan dengan alat luar biasa tersebut.

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Sebuah studi terbaru dari MIT Media Lab menunjukkan bahwa penggunaan kecerdasan buatan (AI) berpotensi menurunkan kemampuan berpikir kreatif. Temuan ini seakan menguatkan kekhawatiran banyak orang tentang alat generatif tersebut.

Meski demikian, penerima penghargaan Time 100 AI sekaligus anggota dewan American Society for AI Will Hatcher meyakini bahwa AI memungkinkan para kreator berkarya secepat budaya bergerak, dengan studio lengkap di dalam ransel mereka.

Lebih lanjut Hatcher mengatakan, AI tidak memlulu mengancam kreativitas. Sebab, jika digunakan dengan tepat, ia justru dapat memperkuatnya. Dilansir dari PRDaily, Senin (2/3/2026), berikut empat caranya.

1. Gunakan AI untuk Memperluas Keahlian, Bukan Menggantikan Cara Berpikir

Hatcher mengajak untuk mengubah cara pandang terhadap AI. Alih-alih bertanya apa yang akan diambil AI dari kita, ia menyarankan untuk bertanya apa yang bisa kita ciptakan dan bayangkan dengan alat luar biasa tersebut.

Menurutnya, AI memperkuat keahlian yang sudah kita bangun selama bertahun-tahun. AI tidak menciptakan kepakaran dari nol, tetapi memperluasnya. Karena itu, AI sebaiknya digunakan untuk mempertajam kekuatan, menguji gagasan, serta melakukan stress-test atas pekerjaan—bukan sebagai pengganti proses berpikir.

2. Bangun Budaya Tim Berdasarkan 4C

4C yang dimaksud Hatcher adalah Curiosity, Community, Creators, dan Creativity. Adapun Curiosity atau rasa ingin tahu, menurutnya, bukan sesuatu yang pasif. Ia harus dipelihara melalui eksperimen berkelanjutan. Artinya, organisasi perlu memberi ruang bagi tim untuk mencoba, menguji, dan beriterasi.

Sementara Community atau komunitas juga krusial. Tanpa pembelajaran bersama, tim akan tertinggal. Karena itu, ia menyarankan pembentukan kelompok kerja internal, berbagi prompt, memasukkan keterampilan AI dalam kurikulum pengembangan SDM, serta mempererat kolaborasi dengan tim IT dan data.

Creators menjadi unsur berikutnya. Hatcher menilai inovasi AI kerap terhambat ketika hanya dipandang sebagai isu kepatuhan. Setiap organisasi, katanya, perlu memiliki sosok kreator yang diberi ruang untuk bereksperimen dan tidak dibatasi oleh pola pikir yang terlalu sempit.

Adapun Creativity tetap harus berpadu dengan proses. Sebelum membuka aplikasi AI, tim perlu mendefinisikan audiens, tujuan, dan hasil yang ingin dicapai. Kerangka prompting sederhana seperti CREATE—Context, Role, Task, Example, Action, Tone, Evaluation—dapat membantu memastikan penggunaan AI tetap terarah.

3. Selera Tetap Menjadi Penentu

Di tengah banjir konten berbasis AI, satu keunggulan manusia yang tetap tak akan tergantikan adalah taste atau selera. Menurut Hatcher, AI dapat menghasilkan puluhan opsi judul, berbagai versi video, serta meramu ulang pesan dalam hitungan menit. Namun, diperlukan manusia untuk menentukan versi mana yang selaras dengan suara merek, atau pesan mana yang benar-benar membangun kepercayaan.

Di situlah peran profesional komunikasi. AI dapat membantu, menyarankan, dan mempercepat skala produksi. Tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan manusia. Jangan menyerahkan tanggung jawab itu sepenuhnya pada mesin.

Demikian 3 cara memperkuat kreativitas dengan AI. Semoga informasi ini bermanfaat, ya! (LTH)