Mengubah "Mindset" Grogi Jadi Percaya Diri saat Berbicara

PRINDONESIA.CO | Selasa, 31/10/2023 | 19.128
Ika Sastrosoebroto, founder & CEO of Prominent PR saat mengisi workshop JAMPIRO #9 di Yogyakarta, Kamis (26/10/2023).
karyasaka.id/PR INDONESIA

Rasa grogi sering muncul  tiap hendak berbicara di depan publik. Simak tips dari Ika Sastrosoebroto, founder & CEO of Prominent PR, berikut ini.

YOGYAKARTA, PRINDONESIA.CO – Keterampilan berbicara di depan umum merupakan salah satu kompetensi yang wajib dimiliki oleh praktisi public relations (PR). Kenyataannya, tidak semua PR memiliki kemampuan ini. Salah satunya, Nadya, peserta workshop Jambore PR INDONESIA (JAMPIRO) 2023 yang diselenggarakan oleh PR Indonesia di Yogyakarta, Kamis (26/10/2023).

Ia mengaku tertarik untuk mengikuti workshop bertema “Speak, Connect, and Lead: Navigating Public Speaking, Interpersonal Skills, and Creative Leadership” tersebut karena merasa perlu untuk meningkatkan kemampuan public speaking. “Saya ingin menambah skill public speaking supaya enggak grogi lagi kalau bicara di depan umum,” katanya membuka sesi yang diisi oleh founder & CEO of Prominent PR Ika Sastrosoeboro.

Ternyata Nadya tidak sendiri. Menurut Ika, rasa grogi bisa muncul karena adanya perasaan terlalu khawatir. Grogi juga bisa terjadi karena kita terlalu fokus memikirkan kesalahan saat mengemukakan pendapat. Sementara pikiran terkoneksi dengan internal di dalam diri. “Jadi, kita sebenarnya takut sama diri sendiri. Padahal tidak ada orang lain yang menghiraukan kita,” ujarnya saat membawakan topik “Connecting Hearts and Minds: Buildng Strong Interpersonal Bonds”.

Selain menekankan soal pentingnya kita mengontrol isi pikiran, perempuan lulusan Sekolah Tinggi Publisistik Jakarta (kini Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta) itu juga berpesan agar tidak perlu merasa malu membawa catatan kecil yang berisi ringkasan atau poin-poin yang ingin dibahas.

“Mindset”

Lebih lanjut, Ika berkata, bahwa kecakapan dalam berkomunikasi sebenarnya dibangun dari dalam diri. Menurutnya, percuma mengikuti beragam kelas public speaking apabila hanya menguasai teknik, tanpa dilandasi oleh mindset yang kuat.  

Di hadapan para peserta workshop, Ika mengemukakan beberapa mindset untuk menepis grogi dengan mengimplementasikan live communication. Di antaranya,  komunikasi yang baik muncul dari sikap, integritas, konsisten, dan perlu dibangun (pembelajaran). Alih-alih berbicara, komunikasi justru membutuhkan 80% kemampuan untuk mendengarkan.

Komunikasi juga perlu kejujuran. Dalam berkomunikasi, Ika juga menekankan pentingnya menanamkan di dalam benak bahwa komunikasi memberikan kebahagiaan. Komunikasi harus mengalir. Sebab, berkomunikasi merupakan pengalaman yang terkait dengan otak dan sistem saraf atau neuro experience.

Mindset berikutnya adalah senantiasa melakukan check and recheck pesan komunikasi. Dan, mengedepankan prinsip adanya saling ketergantungan antara komunikator dengan komunikan. Ika juga menggarisbawahi agar saat berkomunikasi mengetahui nilai atau value yang ada di dalam diri. Dengan kata lain, private victory before public victory.  

Dalam berkomunikasi, ia juga menekankan soal konsep “telur dan ayam”. Kaitannya dengan komunikasi adalah bahwa antara kualitas dengan kuantitas maupun produksi dengan hasil, sama-sama memiliki peran yang penting.

Selain itu, berkomunikasi membutuhkan tubuh, pikiran, dan jiwa. Saat hendak berkomunikasi, Ika juga berpesan agar kita mempersiapkan brief untuk membuka ruang mendapatkan umpan balik dan diskusi yang luas. (aza)