Menurut praktisi komunikasi dan tokoh media Helmy Yahya, komunikasi publik yang benar tidak hanya mengandalkan kemampuan mulut untuk berbicara.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Praktisi komunikasi dan tokoh media Helmy Yahya menegaskan pentingnya kemampuan komunikasi publik yang utuh bagi pejabat negara dan tokoh publik, terutama di tengah situasi sosial yang sensitif dan mudah tersulut emosi.
Menurut Helmy, banyak kegaduhan publik bermula dari pernyataan pejabat yang tidak empatik, pilihan kata yang keliru, serta gaya debat yang cenderung menyerang. “Ketika masyarakat merasa tidak diwakili oleh orang yang mereka pilih, kemarahan itu bisa meledak. Komunikasi publik yang buruk bisa memicu krisis kepercayaan,” ujarnya dalam kanal YouTube @HelmyYahyaBicara, Senin (2/2/2026) dikutip dari Wartakotalive.com.
Menurut Helmy, komunikasi publik yang benar tidak hanya mengandalkan kemampuan mulut untuk berbicara. Dalam konteks ini, mantan Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI itu menjelaskan empat pilar utama sebagai dasar keterampilan komunikasi. Apa saja?
1. Berbicara dengan Diksi yang Tepat (Oral Communication)
Helmy menjelaskan, inti dari public speaking adalah memahami audiens. Oleh karena itu, pemilihan diksi dan level bahasa harus disesuaikan dengan siapa kita bicara. "Bicara dengan generasi Z berbeda dengan baby boomer. Bicara di forum kampus tentu berbeda dengan di pasar. Setiap audiens menentukan bahasa dan level yang kita gunakan," jelasnya.
2. Keahlian Mendengar (Listening Skill)
Bagi Helmy, mendengar adalah bagian dari dialog, bukan sekadar menunggu giliran untuk menyerang balik. Untuk itu, ia mengajak untuk bisa melakukan suspend judgement (menunda penilaian) sebelum benar-benar memahami maksud lawan bicara. "Banyak orang sibuk memikirkan serangan balik saat lawan bicara belum selesai. Padahal, jika kita sudah menyerang pribadi dalam debat, itu tandanya kita sudah kehabisan konten atau program," imbuhnya.
3. Ketelitian dalam Membaca (Reading Skill)
Di era media sosial dan pesan instan seperti sekarang, kesalahan interpretasi sering terjadi akibat kurangnya ketelitian dalam membaca. Helmy mengingatkan agar tidak terburu-buru mengambil kesimpulan dari pesan tertulis yang sering kali minim emosi.
4. Kemampuan Menulis yang Benar (Writing Skill)
Menulis adalah paket lengkap dari membaca. Kemampuan menyusun pesan tertulis yang jelas dan tidak multitafsir sangat penting agar penerima pesan dapat merespons dengan benar. Pemilihan kata yang mudah dimengerti, tegasnya, menjadi kunci utama dalam pilar ini.
Helmy Yahya juga menekankan bahwa kesuksesan seseorang sangat bergantung pada bagaimana ia menyampaikan pesan hingga sampai ke tujuan tanpa menimbulkan kegaduhan. "Tuhan menciptakan kita dengan dua telinga dan satu mulut, artinya kita diminta lebih banyak mendengar daripada berbicara. Jadilah orang sukses yang kalau diminta bicara bisa sampai pesannya, punya kesabaran untuk mendengar, teliti membaca, dan benar dalam menulis," pesannya. (LTH)
- BERITA TERKAIT
- 4 Pilar Utama Komunikasi yang Harus Dikuasi Pejabat dan Tokoh Publik
- Tentang Sertifikasi yang Penting bagi Calon PR Maupun Para Profesional
- Mengenal Kerangka “ROPE” dalam Merancang Komunikasi Strategis
- Tentang Peran PR Ketika Reputasi Makin Diperhatikan “Stakeholder”
- 4 Hal yang Wajib Dipahami dan Dipegang Erat Setiap Praktisi PR