Mengomunikasikan ESG ke Dalam “Brand Storytelling”

PRINDONESIA.CO | Rabu, 01/11/2023 | 2.509
Shirley Tangkilisan, GM H+K Strategies Indonesia saat mengisi workshop JAMPIRO #9 di Yogyakarta, Kamis (26/10/2023).
karyasaka.id/PR INDONESIA

Salah satu kunci keberhasilan brand storytelling ke depan adalah dengan memasukan implementasi environmental, social, governance (ESG) perusahaan dalam komunikasi.

YOGYAKARTA, PRINDONESIA.CO – Menurut Shirley Tangkilisan, General Manager Hill+Knowlton (H+K) Strategies Indonesia, saat mengisi workshop bertajuk “Crafting Brand Narratives for Impactful Influence” di Yogyakarta, Kamis (26/10/2023), masa depan brand storytelling bakal dipengaruhi oleh faktor-faktor keberlanjutan (sustainability).

Brand Storytelling perusahaan, pilar-pilar, dan kampanye, semua itu berkaitan dengan keberlanjutan," katanya di hadapan peserta yang selama tiga hari berturut-turut mengikuti rangkaian Jambore PR INDONESIA (JAMPIRO) #9, agenda rutin yang diselenggarakan oleh PR INDONESIA.

Shirley melanjutkan, ke depan penerapan environmental, social, governance (ESG) bakal menjadi salah satu aspek esensial dalam mengukur keberlanjutan perusahaan.  “Saat ini faktor keberlanjutan sudah bukan menjadi sesuatu yang tabu bagi organisasi,” katanya.

Perempuan yang sudah malang-melintang berkecimpung di dunia komunikasi lebih dari 15 tahun ini lantas merujuk pernyataan founder Patagonia Yhon Chouinard. Menurut pria yang masuk ke dalam daftar 100 Orang Paling Berpengaruh versi Majalah Time pada tahun 2023 tersebut, bumi merupakan salah satu bagian dari pemangku kepentingan (stakeholder).

Lebih Mendalam

Karena hal itu pula, ia meyakini akan ada pergeseran di dunia agensi kepiaran. Terutama dalam hal membangun dan mengomunikasikan brand storytelling. Dulu, kata Shirley, tujuan brand storytelling hanya terbatas pada bahasa pemasaran konseptual untuk mencapai target penjualan, perekrutan, dan initial public offering (IPO). Sekarang, tujuan brand storytelling memiliki makna dan tujuan yang lebih mendalam. Yakni, bercerita berdasarkan prinsip-prinsip kemanusiaan yang berdampak pada audiens dan masyarakat umum.

Dengan demikian, mengomunikasikan brand storytelling tidak lagi hanya soal kuantitas. Lebih dari itu, komunikasi yang dibangun harus berkualitas dan memiliki dampak bagi banyak orang. “Untuk itu, perlu insiatif dari para pelaku komunikasi agar dapat menciptakan perubahan perilaku yang berfokus pada keberlanjutan,” ujarnya.

Bagi perempuan yang sebelumnya menjabat sebagai Account Director H+K Strategies Indonesia tersebut, nantinya storytelling yang efektif bukan lagi sekadar menciptakan buzz atau konten agar menjadi viral. Ada hal lain yang lebih penting dari itu. Yakni, menciptakan percakapan yang mendorong perubahan mulai dari permukaan hingga akhirnya mencapai tujuan yang ditetapkan oleh organisasi. 

Shirley lantas memberi contoh Coca-Cola dan Hyundai yang dinilai sukses membangun brand storytelling dengan mengedepankan aspek-aspek keberlanjutan. Coca-Cola, misalnya, selalu mengedepankan satu pesan kunci, yakni sebagai perusahaan yang membawa kebahagiaan. Sementara Hyundai, membangun kisahnya sebagai pelopor perubahan lingkungan dengan menghadirkan mobil listrik.  

Untuk  menjawab tantangan mengomunikasikan brand storytelling, peraih gelar Sarjana Marketing Communications LSPR Communcation and Business Institute itu, menekankan pentingnya merek memiliki tujuan yang jelas dan otentik. Upaya ini dapat dilakukan dengan menerapkan konsep performance, purpose, preference atau 3P Communications. Yakni, konsep yang menggabungkan antara performa (performance), dengan tujuan (purpose) untuk menciptakan preferensi (preference).

Adapun performance mencakup strategi yang merangsang pertumbuhan dan meningkatkan laba. Sementara tujuan meliputi alasan dan perubahan yang akan diciptakan oleh organisasi di dunia. Nah, gabungan keduanya menciptakan preferensi. “Pada akhirnya, tanpa kita sadari brand storytelling mampu memenangkan hati, pikiran, dan loyalitas publik,” ujarnya. (jar)