Praktisi Komunikasi Korporat dan Mitigasi Reputasi Iskandar Tumbuan membagikan empat langkah agar praktisi public relations (PR) mampu keluar dari jebakan fungsi teknis yang terlalu sempit. Apa saja?
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Praktisi public relations (PR) yang bernaung di bawah payung corporate communication (corcom) maupun corporate cecretary (corsec), selalu tampil sebagai salah satu yang tersibuk karena hadir di panggung dan juga memainkan peran vital di belakang layar. Namun, praktisi komunikasi korporat dan mitigasi reputasi Iskandar Tumbuan mengajukan pertanyaan reflektif, apakah peran tersebut telah benar-benar menyentuh inti strategis dalam menjaga reputasi, atau justru terjebak dalam rutinitas teknis dan seremonial semata.
Menurut Iskandar, praktisi PR secara umum perlu keluar dari jebakan fungsi teknis dan mulai menjalankan peran yang lebih strategis. Hal itu ia sampaikan mengingat masih banyak yang gagap ketika reputasi terguncang. Iskandar juga menilai bahwa tak jarang praktisi PR luput membaca gejala awal krisis karena fokus yang terlalu sempit pada pekerjaan operasional.
Oleh karena itu, Iskandar merekomendasikan empat langkah untuk memastikan PR memainkan peran strategis.
1. Naik Kelas sebagai Mitra Strategis
Menurut Iskandar, praktisi PR baik di level corcom atau corsec, harus duduk sejajar dengan fungsi manajemen risiko, legal, human capital, dan keuangan. “Komunikasi harus terlibat sejak tahap awal pengambilan keputusan, bukan setelah krisis meledak,” jelasnya dalam artikel di majalah PR INDONESIA edisi 115/Juli-Agustus 2025.
2. Mengembangkan Literasi Risiko dan Reputasi
Iskandar menekankan pentingnya pemahaman menyeluruh tentang bagaimana krisis reputasi terbentuk, bagaimana peta persepsi publik terbaca, dan cara menyusun mitigas komunikasi sebelum situasi meledak di ruang publik.
3. Menjaga Narasi
Menurut alumnus Universitas Gadjah Mada itu, setiap aktivitas komunikasi termasuk penyelenggaraan acara pesan strategis harus tetap menjadi prioritas. “Narasi yang diangkat semestinya berfokus pada nilai, tata kelola, arah keberlanjutan, dan purpose jangka panjang perusahaan bukan sekadar narasi acara semata,” jelasnya.
4. Berani Mengintervensi Isu
Dalam konteks krisis, kata Iskandar, komunikasi yang lambat dan pasif justru memperparah situasi. “Karena itu, kita harus menjadi inisiator, bukan hanya eksekutor dengan menyusun crisis playbook dan bukan hanya press kit,” ujarnya.
Dengan, menerapkan keempat langkah di atas, Iskandar meyakini bahwa praktisi PR akan benar-benar bertransformasi dari pelaksana teknis menjadi aktor strategis yang berperan penting dalam menjaga dan memperkuat reputasi perusahaan. Semoga informasi ini bermanfaat, ya! (EDA)
- BERITA TERKAIT
- 4 Langkah Memastikan Peran PR Berfokus Pada Reputasi
- 3 Langkah Dalam “Stakeholder Management” Ini Bisa Cegah Korupsi
- 3 Hal Penting yang Wajib Diperhatikan Talenta PR di Tahun 2026
- SEA CAN Alliance Bangun Ekosistem Komunikasi Terpadu Strategis di Asia Tenggara
- Kelas Humas Muda Vol. 5 Sorot Hal Penting Guna Bertahan Menghadapi Krisis