Laporan State of PR Report hasil kolaborasi Meltwater dan We. Communications menggarisbawahi kesenjangan antara ekspektasi terhadap public relations (PR) dan struktur pendukung sebagai salah satu tantangan utama PR modern
SINGAPURA, PRINDONESIA.CO – Dewasa ini, ekspektasi pimpinan organisasi terhadap kontribusi public relations (PR) terus meningkat, sementara dukungan anggaran dan sumber daya justru stagnan atau bahkan menurun. Kesenjangan antara ekspektasi terhadap PR dan struktur pendukung tersebut terungkap laporan bertajuk State of PR Report hasil kolaborasi Meltwater dan We. Communications yang memotret tantangan nyata praktisi PR di berbagai belahan dunia, termasuk kawasan Asia Pasifik (APAC).
Dalam laporan tersebut terungkap setidaknya tiga tantangan utama PR modern. Pertama,keterbatasan sumber daya. Sebanyak 24 persen dari total 1.100 praktisi PR dan komunikasi seluruh dunia yang menjadi responden menyebut kekurangan sumber daya sebagai tantangan utama dengan hampir 70 persen anggaran diperkirakan akan tetap sama atau bahkan menurun.
Kedua, pengukuran kinerja PR masih belum memenuhi ekspektasi pimpinan. Sebanyak 21 persen praktisi PR mengaku kesulitan mengukur ROI dan membuktikan dampak bisnis karena masih mengandalkan metrik berbasis aktivitas seperti jumlah pemberitaan dan jangkauan. Ketiga, kesenjangan pemahaman di level pimpinan (c-suite disconnect), dengan 40 persen pemimpin di organisasi tidak memiliki pemahaman kuat mengenai aktivitas yang dijalankan oleh tim PR mereka.
Bagi Praktisi PR di Kawasan APAC
Dalam konteks kawasan Asia Pasifik (APAC), temuan ini memiliki relevansi khusus karena tim PR di wilayah APAC seringkali menangani banyak negara, lanskap media yang terfragmentasi, serta struktur pelaporan yang kompleks. “Bagi organisasi yang beroperasi di kawasan APAC, temuan ini mencerminkan realitas yang sudah sangat familiar,” ujar VP Enterprise APAC Meltwater Mimrah Mahmood.
Mimrah menyebut, lebih dari 34,7 persen praktisi PR kesulitan menyelaraskan metrik komunikasi dengan KPI bisnis, sementara 27,8 persen menilai pembuktian nilai PR kepada pimpinan sebagai tantangan utama. Hal ini menegaskan adanya kebutuhan yang semakin mendesak akan pendekatan pengukuran berbasis hasil seperti efektivitas pesan, sentimen publik, dan keselarasan yang jelas antara aktivitas komunikasi dan prioritas organisasi.
Selaras dengan itu, lanjut Mimrah, tim PR diharapkan dapat mendukung pertumbuhan, mengelola risiko, dan membangun kepercayaan di pasar yang semakin komplek dengan menggunakan matriks yang menangkap kontribusi strategis. “Menutup kesenjangan ini membutuhkan penyelarasan yang lebih kuat dengan prioritas pimpinan serta pendekatan pengukuran dampak yang lebih bermakna, bukan sekadar bekerja lebih keras dengan sumber daya yang terbatas,” tandasnya. (EDA)
- BERITA TERKAIT
- Prinsip 3E Jadi Fondasi Komunikasi Publik Efektif Apindo
- Laporan “State of PR Report” Sebut Ekspektasi Pimpinan Jadi Tantangan PR Modern
- Marak Super Flu, PDPI Soroti Kecermatan Komunikasi Publik
- 4 Langkah Memastikan Peran PR Berfokus Pada Reputasi
- 3 Langkah Dalam “Stakeholder Management” Ini Bisa Cegah Korupsi