Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja, strategi komunikasi publik yang efektif harus mencakup prinsip 3E. Apa saja?
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Komunikasi publik bukan sekadar soal menyampaikan pesan. Secara praktik ia sangat strategis, karena berguna dalam membangun pemahaman dan kepercayaan publik terhadap sebuah institusi. Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja. Dalam konteks ini, ia menegaskan pentingnya komunikasi publik yang terbuka, bertanggung jawab, dan berorientasi pada substansi.
Dalam praktik di Apindo, kata Shinta, komunikasi publik dijalankan di atas prinsip 3E yang mencakup explain, engage, dan empathy. “Kita harus menjelaskan sejelas-jelasnya. Penjelasan itu sangat penting dan kita harus sadar saat berbicara di ruang publik, kita mewakili organisasi, bukan suara pribadi dan harus didukung oleh fakta dan data,” ujarnya dikutip dari IDNTIMES.com, Sabtu (17/1/2026).
Pada prinsip kedua yaitu engage, lanjutnya, Apindo senantiasa memastikan keterlibatan aktif dengan para pemangku kepentingan. Bagi Shinta, komunikasi publik tidak cukup berhenti pada penjelasan, tetapi harus membangun interaksi dan dialog yang konstruktif. Terkait empathy sebagai prinsip paling vital, tegas Shinta, harus dipastikan agar pesan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. “Komunikasi publik itu tidak sesederhana kita mau menyampaikan, kita baca, menghafalkan,” ucapnya.
Tentang empati yang digarisbawahi Shinta juga pernah ditegaskan dosen Program Studi Ilmu Komunikasi sekaligus Humas Fakultas Ilmu Komputer Universitas Dian Nuswantoro Semarang Heni Indrayani. Dalam tulisannya di majalah PR INDONESIA edisi 115 Juli-Agustus 2025 Heni mengatakan, komunikasi publik yang berempati dengan strategi yang tepat dapat membangun kepercayaan dengan audiens, mengurangi resistensi atau penolakan, dan menguatkan legitimasi kebijakan. “Tanpa empati, setiap ucapan bisa menambah luka dan memperlebar jurang kepercayaan antara komunikator dan audiensnya,” tulis Heni.
Kritik Sebagai Bahan Evaluasi
Kembali kepada Shinta, perempuan yang menjabat Chief Executive Officer Sintesa Group itu menegaskan, dalam praktiknya komunikasi publik tidak akan bisa lepas dari kritik. Entah itu karena organisasi dianggap terlalu banyak bicara, atau karena pesan yang disampaikan dirasa kurang.
Terlepas dari pemicunya, kata Shinta, setiap kritik harus diterima. Sebab, ingatnya, tidak ada komunikasi yang sepenuhnya benar tanpa evaluasi. “Kita harus terbiasa menerima kritik untuk memperbaiki diri. Yang pasti, keseimbangan itu penting dan disinilah peran media membantu menakar sejauh mana kualitas komunikasi publik kita,” tandasnya. (EDA)
- BERITA TERKAIT
- Prinsip 3E Jadi Fondasi Komunikasi Publik Efektif Apindo
- Laporan “State of PR Report” Sebut Ekspektasi Pimpinan Jadi Tantangan PR Modern
- Marak Super Flu, PDPI Soroti Kecermatan Komunikasi Publik
- 4 Langkah Memastikan Peran PR Berfokus Pada Reputasi
- 3 Langkah Dalam “Stakeholder Management” Ini Bisa Cegah Korupsi