Tentang Peran PR Ketika Reputasi Makin Diperhatikan “Stakeholder”

PRINDONESIA.CO | Kamis, 29/01/2026
Ilustrasi reputasi
doc/freepik

Director of Corporate and Public Affairs FleishmanHillard Indonesia Muhammad Zulkifli menilai penting peran tersebut mengingat apa yang kini menjadi perhatian utama para stakeholder.

JAKARTA, PRINDONESIA.CO –  Di era digital yang serba cepat dan serba transparan, peran public relations (PR) dalam komunikasi korporat mengalami pergeseran fundamental. Tidak lagi sebatas mengurus publikasi media atau membangun citra positif, praktisi PR kiwari dituntut berfokus pada membangun kepercayaan publik sebagai fondasi utama reputasi dan keberlanjutan bisnis jangka panjang organisasi.

Hal tersebut diamini Director of Corporate and Public Affairs FleishmanHillard Indonesia Muhammad Zulkifli. Ia menilai penting peran tersebut mengingat apa yang kini menjadi perhatian utama para stakeholder. “Reputasi dan kepercayaan kini memberikan nilai tambah langsung bagi kinerja perusahaan, baik dalam loyalitas pelanggan, hubungan investor, maupun dukungan regulator,” ujarnya dilansir dari MARKETING.co.id, Rabu (28/1/2026).

Zulkifli menjelaskan, jika sebelumnya reputasi banyak dibentuk melalui media tradisional, dalam lanskap kekinian, setiap individu dapat menjadi media, dan setiap karyawan dapat menjadi juru bicara tidak resmi perusahaan. Praktis, peran PR sebagai orkestrator pesan menjadi penting agar berbagai suara yang keluar, baik dari publik maupun karyawan, dapat bermuara kepada reputasi positif.

Melampaui Lapisan Kritis Audiens

Dalam paradigma baru ini, Zulkifli menekankan, pentingnya komunikasi yang autentik, empatik dan relevan. Ia juga menilai aktivasi juru bicara yang kredibel menjadi krusial. Dalam hal ini tidak lagi bisa jika hanya mengandalkan “brand speaking”. Selain itu, tambahnya, komitmen sosial dan lingkungan juga perlu ditunjukkan lebih nyata. “Adanya digitalisasi membawa kesadaran baru yang membuat publik lebih percaya pada manusia dibanding institusi. CEO, karyawan dan pelanggan kini lebih memengaruhi persepsi dibanding kampanye resmi perusahaan,” ujarnya.  

Pandangan tersebut selaras dengan apa yang pernah disampaikan Communications Director Danone Indonesia Arif Mujahidin dalam majalah PR INDONESIA edisi 115 Juli-Agustus 2025. Ia menyebut, praktik PR dalam konteks hari ini bukan lagi hanya soal menyampaikan informasi atau seberapa keras pesan disampaikan di ruang publik, tetapi lebih kepada bagaimana membentuk persepsi, mengelola pesan, dan mengukir narasi yang mampu menembus lapisan kritis dan membentuk kepercayaan bertahap. (EDA)