Praktisi komunikasi di Yelp dan Match Group membagikan tiga cara mengubah data perusahaan menjadi konten yang menarik dan bernilai bagi media dan audiens. Apa saja caranya? Simak berikut!
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Setiap perusahaan pasti mengumpulkan berbagai jenis data. Oleh praktisi public relations (PR), data-data tersebut dapat diolah untuk menciptakan cerita yang relevan dan menarik perhatian audiens atau media.
Head of B2B and Enterprise Communications Yelp Will DeGirolamo menjelaskan, praktisi PR perlu punya kemampuan mengolah data seperti transaksi, pola penggunaan, maupun perilaku konsumen. “Tantangannya bagaimana mengolah data tersebut menjadi cerita yang memiliki nilai berita,” ujarnya.
Melansir dari PR Daily, Rabu (1/7/2026), Yelp dan Match Group membagikan tiga strategi berikut untuk dapat diterapkan praktisi PR.
1. Jadikan Cerita Sebagai Peran Utama Bukan Merek
Kesalahan terbesar yang sering dilakukan perusahaan adalah menganggap data itu menjadi sebuah cerita. Menurut Michael Kaye, Head of Communications and Partnerships Match Group, jurnalis tidak terlalu peduli apakah data berasal dari 500 atau satu juta pengguna. “Yang mereka cari adalah wawasan baru mengenai perilaku manusia, budaya maupun tern sosial yang dapat dijelaskan dari data tersebut. Sehingga, data akan terasa lebih kuat ketika mampu menjelaskan fenomena yang sedang berkembang di masyarakat,” ujarnya.
2. Sampaikan Hal yang Sesuai Otoritas Perusahaan
Data akan lebih bernilai apabila lahir dari bidang yang memang dikuasai perusahaan. Untuk itu, setiap perusahaan disarankan membangun laporan atau riset secara berkala dan berkelanjutan agar dicap sebagai sumber informasi yang kredibel. Menurut Kaye, cerita media yang paling kuat berasal dari data eksklusif yang hanya dimiliki oleh perusahaan itu sendiri.
3. Jangan Takut Berhadapan dengan Data
Sebagai praktisi PR di era media sosial seperti sekarang, kemampuan membaca dan memahami data menjadi kompetensi penting yang tidak bisa dihindarkan. Senior Director of Communications Yelp Julianne Rowe menilai, setiap praktisi PR tidak harus menjadi ilmuwan data, tetapi perlu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan mampu berkolaborasi dengan tim analis data. “Ajukan banyak pertanyaan dan pahami jenis cerita yang akan beresonansi dengan audiens. Di situlah peran utama praktisi PR,” ujarnya.
Dengan demikian, keseluruhan cara di atas dapat membantu mengemas narasi yang kuat dan mampu merawat reputasi organisasi. Tidak luput, nilai sesungguhnya terletak pada kemampuan praktisi PR dalam membaca data dan mengubahnya menjadi cerita yang relevan, yang mampu menjelaskan fenomena yang terjadi serta memberikan perspektif baru bagi masyarakat. (Evira Anyelia)
- BERITA TERKAIT
- Catat! Ini 3 Cara Mengolah Data Perusahaan Jadi Konten Yang Menarik dan Bernilai
- RS Husada Utama Gandeng PERSIARI Perkuat Komunikasi Tenaga Medis
- 5 Langkah Memastikan Etika Penggunaan AI bagi PR
- Demi Dukung Kinerja PR, Meltwater Perluas Akses Meltwater MCP
- 4 Cara bagi PR Memperkuat Kreativitas dengan AI