3 Langkah Menerjemahkan Data Digital untuk Mengantisipasi Krisis

PRINDONESIA.CO | Selasa, 01/09/2026
Ilustrasi menerjemahkan data
doc/kumparan

Senior Account Manager Indonesia Communication (ID COMM) Dewi Bastina membagikan tiga langkah yang perlu dilakukan praktisi public relations (PR) dalam menerjemahkan data demi menghadang potensi krisis lebih dini sekaligus mengambil keputusan komunikasi yang lebih strategis. Apa saja? simak berikut!

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Dalam mengelola reputasi dan krisis, tak sedikit organiasi yang masih berpijak pada kerangka berpikir lama, sehingga mereka baru bergerak setelah isu menjadi ramai dan viral. Padahal, dalam lanskap hari ini, organisasi dapat memanfaatkan data untuk memetakan sebuah isu sebelum menjadi menjadi krisis. Dalam konteks ini, tantangannya bukan terletak pada ketersediaan data, tetapi pada kepekaan praktisi public relatons (PR) dalam membaca dan menerjemahkan makna dibalik data tersebut.

Senior Account Manager Indonesia Communication (ID COMM) Dewi Bastina mengatakan, data digital dewasa ini menjadi elemen penting dalam memonitoring krisis dan reputasi. Namun, data tidak seharusnya hanya diperlakukan sebagai alat pemadam kebakaran ketika persoalan sudah muncul. “Data digunakan untuk mengelola reputasi brand, memandu inovasi produk, menyesuaikan pendekatan komunikasi, hingga memperluas jejaring stakeholder yang akan memberikan manfaat di masa depan,” tulisnya dalam laman resmi ID COMM.

Untuk dapat mengubah data digital tersebut menjadi rangkaian insight yang relevan, alumnus Universitas Indonesia itu membagikan tiga langkah yang dapat dilakukan dan diperhatikan praktisi PR. Berikut penjelasannya.

1. Tajamkan “Keywords”

Menurut Dewi, keywords atau kata kunci menjadi faktor penentu keberhasilan data yang ditarik. Ia menegaskan, keywords yang terlalu luas akan menarik banyak data dan akan mendapat noise yang tinggi. “Sesuaikan dengan objektif apakah hanya ingin memonitor satu kampanye tertentu atau ingin melihat performa brand dan kompetitor secara keseluruhan,” ujarnya.

2. Petakan Topik Percakapan

Setelah data tersebut dibersihkan dari noise, Dewi melanjutkan, praktisi PR harus mampu memetakan topik percakapan dan mengklasifikasikannya berdasarkan skala prioritas dan sentimen publik. Di sini, terangnya, analisis kualitatif menjadi sama pentingnya dengan angka. Sebab, analisis sentimen media sosial yang baik bukan hanya sekadar membaca jumlah, tetapi mampu menangkap nuansa seperti sarkasme, kritik konstruktif, hingga sinyal awal krisis.

3. Pahami Aktor Lewat “Social Network Analysis”

Selanjutnya, praktisi PR dapat lebih jeli mengidentifikasikan pola interaksi antaraktor di ranah digital melalui metode social network analysis (SNA). Dewi menerangkan, metode ini didukung dengan pendekatan teori graf berkaitan dengan akun personal, media massa, atau tagar sebagai node (simpul), sedangkan interaksi seperti retweet, mention, dan share digambarkan sebagai edge (garis penghubung). “Itulah yang menjadikan SNA sebagai lensa utama untuk membaca krisis secara struktural bukan sedar permukaan,” katanya.

Ketiga langkah di atas akan menunjukkan bahwa kekuatan data digital bukan terletak pada jumlah informasi yang berhasil dikumpulkan, tetapi pada kemampuan praktisi PR dalam menerjemahkannya menjadi insight yang dapat ditindaklanjuti. (Evira Anyelia)