Menyoal Pemanfaatan “Earned Media” oleh Praktisi PR di era AI

PRINDONESIA.CO | Senin, 03/08/2026
Ilustrasi earned media
doc/muellercommunications

Menurut Co-founder Image Dynamics Harry Tumengkol, setiap brand membutuhkan pemberitaan dari media kredibel serta liputan organik dibandingkan paid media.

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Kehadiran platform kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) seperti ChatGPT, Gemini, dan Claude tidak akan menggeser peran public relations (PR). Sebaliknya, perkembangan AI justru memperkuat posisi PR karena sistem AI lebih mengutamakan sumber informasi yang kredibel melalui earned media dibandingkan konten berbayar (paid media).

Sebagaimana disampaikan co-founder Image Dynamics Harry Tumengkol, era AI seperti sekarang justru menambah nilai praktisi PR. Sebab, mereka mampu menghadirkan liputan earned media yang kredibel dan tidak berbayar. “Sistem AI cenderung mengutamakan sumber dengan standar editorial yang kuat, pelaporan yang andal, serta rekam jejak yang luas sebagai rujukan yang mampu menghadirkan legitimasi dalam mendeskripsikan sebuah brand” ujarnya dalam tulisan yang diterima PR INDONESIA, Jumat (31/7/2026).

Pendapat Harry itu diperkuat oleh artikel dari Public Relations Society of America (PRSA) bertajuk Why Media Relations Matters Even More in the Age of AI. Di sana disebutkan bahwa hubungan media menjadi semakin penting di era AI. “Inilah (yang) memperkuat konsensus bahwa AI justru meningkatkan, bukan mengurangi, nilai strategis earned media,” imbuh Harry.

Dalam implementasi membangun visibilitas brand, menurut Harry, paradigma yang hadir selama ini menganggap paid media adalah jalan tercepat untuk menjangkau audiens secara luas dan cepat. Akibatnya, praktisi PR kerap dipandang sebagai pelengkap karena dinilai bergerak lebih lambat dan sulit diukur. Namun, hal tersebut mulai berubah seiring AI semakin berperan dalam menentukan informasi yang ditemukan, dirujuk, dan dipercaya oleh publik.

Perkuat “Earned” Media

Mengacu laporan terbaru dari Gartner, lebih dari 95 persen tautan yang dikutip oleh platform AI berasal dari media nonberbayar. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa AI mengutamakan kredibilitas media dan konten organik dibandingkan konten berbayar. Gartner turut memprediksi adanya peningkatan signifikan pada anggaran PR dan earned media pada tahun 2027.

Dengan demikian, terang Harry, nilai utama praktisi PR tetap terletak pada kemampuan membangun kredibilitas, kepercayaan, dan validasi dari pihak ketiga. Kehadiran AI tidak mengurangi peran tersebut, melainkan membuatnya semakin strategis. “Bukan karena mereka yang paling banyak membayar, tetapi mereka yang unggul karena paling dipercaya, paling banyak dikutip dan diperbincangkan,” pungkasnya. (Evira Anyelia)