Strategic Business Director PR INDONESIA Ainul Yaqin membedah penyebab perguruan tinggi sepi peminat dan menawarkan lima pilar taktik manajemen reputasi.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO — Reputasi yang pudar menjadi pemicu utama turunnya daya tarik akademik hingga menyebabkan institusi pendidikan swasta kekurangan pendaftar. Hal itu disoroti Strategic Business Director PR INDONESIA Ainul Yaqin saat membahas ketimpangan penerimaan mahasiswa baru dalam Forum Kebijakan dan Bimbingan Teknis Komunikasi Strategis di Perguruan Tinggi yang digelar HUMAS INDONESIA, Rabu (22/7/2026).
Dalam acara tersebut, pria yang karib disapa Ain itu membedah catatan nasional rentang 2023 hingga 2025. Data tersebut merekam banyak kampus gagal menyentuh 50 persen target penerimaan, bahkan kelangkaan mahasiswa memaksa sejumlah sekolah tinggi mengambil jalan penggabungan lembaga demi menyambung napas operasional. Ia juga mencontohkan dengan kondisi kampus di wilayah Sumbawa yang kesulitan menarik peminat, berbanding terbalik dengan Universitas Udayana di lingkungan LLDIKTI 8 yang stabil meraup pendaftar, atau perguruan tinggi negeri unggulan yang memanen calon mahasiswa menembus tingkat keketatan 19 persen pada jalur SNBP 2024.
Menurut Ain, ketimpangan ini terjadi karena institusi terlalu sibuk meladeni deretan aturan birokrasi regulator ketimbang menyusun narasi pembeda identitas. Akibatnya, gaya komunikasi yang kaku gagal menembus ruang percakapan generasi Z, ditambah lagi janji manis materi promosi kerap bertabrakan dengan realita pengalaman harian mahasiswa. "Brand kampus yang kuat tidak dibangun dari luar, tapi dari dalam," tegas Ainul menyinggung hal penting dari tata kelola hari ini.
Penjaga Merek Kampus
Ain menekankan, perbaikan komunikasi perguruan tinggi mutlak harus menyentuh elemen kepegawaian. Ia mendesak pimpinan rektorat segera menyusun struktur penjaga merek yang berisikan dosen, mahasiswa, hingga tenaga kependidikan. Langkah awal pembentukan struktur ini, kata Ain, menuntut kesepakatan fondasi nilai dasar institusi sebelum merumuskan pedoman manajemen reputasi. Dewan pelindung merek ini, lanjutnya, akan bertugas menanamkan budaya kebanggaan baru sekaligus menyiapkan buku panduan komunikasi krisis.
Ain juga menyebut perguruan tinggi perlu mengeksekusi lima pilar strategi komunikasi digital yang ia bawa. Pilar tersebut mencakup rumusan pernyataan khas untuk menegaskan karakter unik kampus menatap persaingan merebut audiens, penyebaran bukti rekam jejak prestasi secara konsisten lewat jejaring sosial, dan pemanfaatan kekuatan cerita alumni untuk menarik simpati calon pendaftar baru. Dua pilar terakhir, tandas Ainul, melibatkan keseragaman tata desain visual. “Serta kesiapan teknis tim mengendalikan kepanikan warga tatkala skandal memalukan mencuat mendadak,” tutupnya. (Arfrian R.)
- BERITA TERKAIT
- Membedah Hal yang Perlu Dilakukan Perguruan Tinggi dalam Manajemen Reputasi Digital
- PR Perguruan Tinggi Pelajari Kiat Membangun Merek
- PR Perguruan Tinggi Perlu Berbenah Hadapi Krisis Komunikasi
- Menengok Strategi ITB Kelola Reputasi Lewat Komunikasi Terukur & Desentralisasi
- PR Perguruan Tinggi Perlu Tinggalkan Paradigma Lama Soal SOP Komunikasi Krisis