Akademisi Soroti Sejumlah Simbol dan Komunikasi dalam Perayaan HUT RI ke-81

PRINDONESIA.CO | Kamis, 20/08/2026
Pembentangan bendera Presiden Prabowo Subianto dalam Perayaan HUT RI ke-81
doc/fajar

Perayaan HUT RI ke-81 menjadi pengingat bahwa komunikasi simbolik pemerintah perlu menempatkan kepentingan dan suara masyarakat di atas ekspresi maupun glorifikasi pemimpin sehingga semangat kemerdekaan tetap menjadi milik seluruh bangsa bukan hanya penguasa. 

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Perayaan Kemerdekaan HUT Republik Indonesia (RI) ke-81 seharusnya menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan bangsa sekaligus memperkuat semangat nasionalisme. Namun, sejumlah kejanggalan muncul dalam rangkaian perayaan tahun ini yang memantik kritik dari publik. Mulai dari pembentangan bendera Presiden Prabowo Subianto di antara bendera HUT RI dan bendera merah putih di langit dan doa yang dipanjatkan oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar.

Disampaikan oleh Pakar Komunikasi Universitas Airlangga Suko Widodo, simbol yang ditampilkan dalam sebuah perayaan kenegaraan memiliki makna komunikasi yang kuat. Menurutnya, tradisi peringatan kemerdekaan biasanya menjadi ruang refleksi, renungan, sekaligus membangun kembali semangat kebangsaan. “Dalam perayaan kali ini memang agak unik ya, ini pasti menunjukkan pikiran-pikiran apakah Pak Prabowo atau timnya melakukan tetapi sedikit ada pengkultusan di dalam demokrasi dan kurang elok,” ujarnya dikutip dari akun TikTok DW Indonesia, Rabu (19/8/2026).

Sentilan serupa disampaikan oleh Guru Besar bidang hubungan internasional Universitas Negeri Saint Petersburg Rusia Connie Rahakundini Bakrie. Menurutnya, fenomena pembentangan foto Presiden Prabowo di atas langit Jakarta oleh pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara menjadi suatu hal yang tidak tepat ditempatkan dalam momentum sakral peringatan kemerdekaan. “Jadi kayaknya narsis banget. At least this is my impression, I hope I’m wrong. Tapi senarsis itu kah?” ujarnya dikutip dari Olenka.id, Selasa (18/8/2026).

Kembali kepada Suko, ia mengatakan hal tersebut menjadi pengingat bahwa komunikasi simbolik seorang pemimpin perlu diperitimbangkan secara matang. Presiden, katanya, harus berhati-hati terhadap perayaan yang berlebihan karena sejatinya hal itu dipersembahkan untuk masyarakat dengan kondisi dan situasi yang ada.

Doa Bukan Sanjungan Kekuasaan

Tak hanya pembentangan foto Presiden Prabowo, hal lain yang juga menjadi sorotan adalah pembacaan doa pada rangkaian peringatan HUT RI ke-81 yang dipimpin oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar. Sejumlah pihak menilai penyampaiannya terlalu banyak memuat capaian pemerintah, angka-angka statistik, dan pujian terhadap Presiden Prabowo Subianto. Sangat disayangkan pula, dalam untaian doa tersebut tidak ada secara khusus bagi masyarakat yang tengah menghadapi bencana, termasuk para korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pengamat dan Kritikus Kebijakan Pemerintah Said Didu menilai, kondisi tersebut kurang mencerminkan semangat doa dan empati dalam peringatan kemerdekaan. “Sepertinya Menteri Agama sekarang lebih politis dari politisi,” ujarnya dikutip dari Fajar.co.id, Selasa (18/8/2026).

Menurut Said, semestinya doa peringatan kemerdekaan menjadi ruang untuk mendoakan seluruh bangsa. Tak hanya pemimpin, tegas Said, tetapi semua elemen rakyat mulai dari petani, buruh, guru, anak-anak hingga masyarakat yang sedang menghadapi berbagai kesulitan. (Evira Anyelia)