Marimas Ungkap Komunikasi Berbasis Emosional Jadi Kunci Bagi Kepercayaan

PRINDONESIA.CO | Rabu, 16/09/2026
CEO PT Marimas Putera Kencana Harjanto Kusuma Halim, Kamis (10/9/2026).
doc/PR INDONESIA

CEO PT Marimas Putera Kencana Harjanto Kusuma Halim membedah kelemahan konten AI dan menegaskan kekuatan pemasaran emosional dalam praktik komunikasi publik.

SEMARANG, PRINDONESIA.CO— Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dengan segala kecanggihannya masih belum bisa menyentuh sisi kemanusiaan audiens. Padahal dalam konteks komunikasi oleh suatu merek, emosi merupakan hal penting untuk bisa menggugah audiens melakukan tindakan tertentu. Hal ini ditegaskan CEO PT Marimas Putera Kencana Harjanto Kusuma Halim dalam acara PR INDONESIA Corporate Xperience Goes to Semarang, Kamis (10/9/2026).

Menurut Harjanto, penggunaan teknologi seperti AI dalam konteks public relations (PR)/humas memang sanggup mempercepat penyusunan naskah komunikasi. Namun, ia mengingatkan, meski demikian praktisi komunikasi tetap perlu terlibat aktif, utamanya untuk menyuntikkan nyawa pada setiap naskah komunikasi. "Jika semua konten dibuat secara instan oleh AI tanpa rasa, hasilnya akan menjadi dingin dan kehilangan karakter khas," kata Harjanto.

Komunikasi publik yang mumpuni hari ini, lanjut Harjanto, menuntut sentuhan personal melebihi sekadar paparan data spesifikasi teknis yang kaku. Pria kelahiran tahun 1965 itu mencontohkan dengan promosi fasilitas terapi robotik pemulihan pasien pascastrok di Rumah Sakit Rejosari. Harjanto mengatakan, penjelasan yang menyentuh aspek emosional melalui tawaran uji coba langsung terbukti memikat lebih banyak minat calon pasien. Ia pun meyakini, komunikasi yang menyentuh perasaan audiens akan mampu melahirkan aliran word of mouth secara tulus antarkonsumen.

Taktik Transparansi Bisnis

Reputasi merek yang kokoh, tegas Harjanto merujuk perusahaan yang ia pimpin, selalu berlandaskan komunikasi yang jujur. Dalam konteks Marimas, jujur di sini adalah memperlakukan bahan baku pangan dengan sebaik-baiknya, dan mengomunikasikannya dengan efektif kepada konsumen. "Menurut saya, kunci komunikasi adalah transparansi: tidak ada dusta di antara kita," tegas Harjanto.

Harjanto mencontohkan dengan kegiatan kunjungan industri interaktif yang memfasilitasi masyarakat umum untuk menjajal langsung fungsi alat ukur kadar manis buah demi memuaskan rasa ingin tahu mereka. "Kami sedang menyiapkan konsep kunjungan pabrik yang lebih interaktif di mana pengunjung dapat mencoba sendiri alat pengukur kadar gula (brix meter), belajar ecobrick dari kemasan saset, dan merasakan langsung pengalaman di balik pembuatan produk," pungkasnya menggarisbawahi pentingnya sikap terbuka. (Arfrian R.)