Urgensi Komunikasi Keberlanjutan di Tengah Kondisi Penuh Ketidakpastian

PRINDONESIA.CO | Selasa, 29/09/2026
Direktur Utama Perum LKBN ANTARA Benny Siga Butarbutar saat menjadi dosen tamu pada Program Magister Sains Sustainability (MSU) Batch 3 Universitas Pertamina (UPER), Sabtu (26/9/2026) di Jakarta.
doc/Antara News

Direktur Utama Perum LKBN ANTARA Benny Siga Butarbutar menegaskan bahwa komunikasi keberlanjutan bukan hanya sebagai kepatuhan tetapi menjadi jembatan untuk membangun pemahaman dan mendorong aksi kolektif pemangku kepentingan.

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Perkembangan teknologi digital dan pola komunikasi yang berlangsung real-time hari ini membawa tantangan baru bagi perusahaan dalam menciptakan komunikasi keberlanjutan dan hubungan harmonis dengan pemangku kepentingan (stakeholder). Hal ini disoroti oleh Direktur Utama Perum LKBN ANTARA Benny Siga Butarbutar saat menjadi dosen tamu pada Program Magister Sains Sustainability (MSU) Batch 3 Universitas Pertamina (UPER), Sabtu (26/9/2026) di Jakarta.

Dikutip dari Antaranews.com, Minggu (27/9/2026), Benny mengatakan, komunikasi keberlanjutan dalam konteks hari ini tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi atau pemenuhan kepatuhan administratif, tetapi menjadi jembatan untuk membangun pemahaman dan mendorong aksi kolektif pemangku kepentingan.

Strategi Hadapi “VUCA” dan “BANI”

Berkaca pada kondisi hari ini yang penuh ketidakpastian atau dikenal dengan konsep VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) dan BANI (Brittle, Anxious, Nonlinear, Incomprehensible), Benny menjelaskan, kondisi tersebut menuntut praktisi public relations (PR) untuk gencar membangun komunikasi keberlanjutan yang dilandasi oleh kejelasan, empati serta perencanaan skenario yang matang.

Dalam menghadapi ketidakpastian tersebut, Benny memaparkan sejumlah tahapan dalam komunikasi keberlanjutan mulai dari pemetaan pemangku kepentingan, strategi keterlibatan, hingga penyusunan pesan komunikasi yang mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).

Pria yang pernah menjabat sebagai Vice President Corporate Communications di Garuda Indonesia dan PT Citilink Indonesia ini menekankan pentingnya pendekatan strategi penggunaan matriks pengaruh dan kepentingan. “Kelompok pembuat keputusan kunci dan pembentuk opini publik memerlukan pendekatan yang berbeda, sementara kelompok rentan juga harus menjadi bagian dari perhatian dalam strategi komunikasi keberlanjutan,” tegasnya.

Hal ini selaras dengan pandangan Direktur Operasional dan Hubungan Kelembagaan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Lalu Dodot Patria Ary yang dibagikannya dalam agenda Forum Kebijakan Komunikasi Strategis & HUMAS INDONESIA BUMD Reputation Awards (FOKUS HIBRA) 2026, beberapa waktu lalu. Menurutnya, pemetaan stakeholder yang tepat dapat membangun sekaligus memperkokoh reputasi. “Setiap organisasi perlu membangun fondasi yang kuat melalui tata kelola yang baik, pengelolaan isu yang terstruktur, dan pemetaan stakeholder agar komunikasi yang dijalankan relevan dan kebutuhan stakeholder,” ujarnya. (Evira Anyelia)