Cara Pertamina Hulu Kaltim Pastikan CSR Berdampak dan Berkelanjutan

PRINDONESIA.CO | Selasa, 03/11/2026
Head of Communication Relations & CID Zona 10 PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) Elis Fauziyah
doc/PR INDONESIA

Head of Communication Relations & CID Zona 10 PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) Elis Fauziyah menegaskan bahwa program tanggung jawab sosial secara berkelanjutan dapat berhasil ketika dilandasi dengan keterlibatan partisipasi penerima manfaat dan bukti dampak nyata dalam strategi komunikasi yang dijalankan.

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Dalam acara PR INDONESIA Communication Outlook (PRICO) 2027 yang berlangsung pada Kamis (29/10/2026) di Auditorium Lantai 2 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta, turut dibahas soal tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dalam menciptakan dampak berkelanjutan. Pembahasan tersebut dibawakan oleh Head of Communication Relations & CID Zona 10 PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) Elis Fauziyah pada sesi Praktik Terbaik PRIA 2026: Memenangkan Audiens & Menciptakan Dampak.

Dalam kesempatan itu, Elis mengambil contoh program Semur Cendawan (Semai Jamur dengan Cerdas dan Berwawasan Pangan) yang diinisiasi pihaknya, untuk membahas program CSR yang menghadirkan dampak berkelanjutan. “Program budidaya jamur tiram ini tidak hanya meningkatkan produktivitas budidaya jamur tetapi untuk mendorong perubahan peran, sikap dan perilaku masyarakat khususnya pada perempuan dan kelompok rentan,” ujarnya.

Elis menjelaskan, program tersebut sejatinya lahir untuk menjawab permasalahan alih fungsi lahan dengan memanfaatkan lahan pekarangan dan limbah serbuk kayu untuk dikelola sebagai media dalam kegiatan budidaya jamur tiram. Seiring perkembangannya dari tahun 2022 hingga kini, program itu pun terus dikembangkan dan mulai direplikasi oleh kelompok di wilayah lain sehingga manfaat program semakin terasa dan tersebar di beberapa wilayah.

Keterlibatan Aktor Komunikasi

Dalam mengomunikasikan program tersebut, Elis menjelaskan, pihaknya menerapkan pendekatan komunikasi yang partisipatif, kolaboratif dan berorientasi pada dampak, dengan penguatan kapasitas komunitas dan storytelling berbasis bukti. “PHKT juga membentuk local hero dari kalangan penerima manfaat yang dapat membagikan pengalaman dan pengetahuan kepada masyarakat lain,” jelasnya.

Menurut Elis, keterlibatan komunitas secara berkelanjutan ikut memastikan penerima manfaat lebih teredukasi dan mandiri, termasuk dalam membawa hasil pemberdayaan dari komunitas menuju pasar  (from community to market).

Adapun untuk capaian komunikasi program, lanjut Elis, program tersebut berhasil memperoleh eksposur lebih dari 10 pemberitaan di media nasional, industri dan regional. Selain itu, tercatat adanya peningkatan kesadaran publik yang memperkuat legitimasi program sebagai salah satu praktik CSR berkelanjutan.

Di luar itu, Elis juga mengatakan program tersebut berhasil mengubah perilaku pada tingkat penerima manfaat yaitu dengan meningkatnya adopsi pengelolaan usaha jamur berbasis teknologi dan keberlanjutan. ”Kami mengukur komunikasi tidak hanya dari seberapa luas pesan disampaikan, tetapi dari sejauh mana pesan tersebut dipahami, diterima dan mendorong perubahan perilaku. Hasilnya terlihat dari tingkat kepuasan masyarakat, adopsi inovasi, hingga dampak sosial dan lingkungan yang terukur,” tandasnya. (Evira Anyelia)