Monumen Pers Nasional meluncurkan layanan arsip digital gratis demi merawat kepercayaan publik terhadap transparansi informasi pemerintah di AHI 2026.
SURAKARTA, PRINDONESIA.CO — Monumen Pers Nasional meruntuhkan kekakuan komunikasi publik instansi pemerintahan lewat penyediaan layanan pengarsipan digital gratis bagi masyarakat. Kepala Monumen Pers Nasional Widodo Hastjaryo menjabarkan inovasi keterbukaan data ini saat membuka sesi Conference Anugerah HUMAS INDONESIA (AHI) 2026 di Surakarta, Rabu (7/10/2026). Lewat inisiatif tersebut, mereka mengonversi tumpukan dokumen fisik menjadi format elektronik yang mudah diakses guna merawat kepercayaan publik terhadap kerja instansi.
Lewat inisiatif tersebut, Widodo menerangkan, Monumen Pers Nasional ingin menempatkan transparansi informasi sebagai fondasi utama penegakan sistem demokrasi bermasyarakat. Langkah itu pun melengkapi nilai sejarah operasional bangunan peninggalan tahun 1917 tersebut. "Kepercayaan lahir dari keterbukaan, ketepatan, konsistensi, serta kemampuan kita untuk mendengarkan dan memahami masyarakat," kata Widodo singkat.
Adapun dalam layanan pengarsipan digital gratis, lanjut Widodo, terdapat Sistem Informasi Database Koleksi yang hadir menjawab tingginya kebutuhan riset akademisi terhadap terbitan koran lawas warisan kemerdekaan Republik Indonesia. Untuk dapat mengaksesnya, pengunjung cukup menyambangi situs web resmi Monumen Pers Nasional. Selain itu, Widodo mengatakan, pihaknya juga turut membuka kanal permohonan pencarian spesifik berbasis surat elektronik, di samping adanya fitur penjelajahan tur virtual ruangan bersejarah.
Pelayanan Arsip Berbasis Humanis
Lebih lengkap, Monumen Pers Nasional juga membuka Layanan Alih Media Arsip Pribadi yang melayani pemindaian dokumen penting keluarga setiap hari Sabtu pada pekan pertama dan ketiga setiap bulannya. Proses digitalisasi tanpa pungutan biaya ini dimaksudkan untuk membantu masyarakat menyelamatkan berkas resmi dari ancaman kerusakan fisik maupun pelapukan kertas.
Mengenai layanan tersebut, Widodo membagikan kisah seorang perempuan yang mendatangi loket membawa selembar foto pernikahan orang tuanya guna mencegah kerusakan visual permanen. Sang ayah kini leluasa menatap wajah mendiang istrinya setiap saat lewat layar telepon seluler berkat program pelestarian memori keluarga. Praktik pelayanan langsung semacam ini mengubah wajah humas pemerintah menjadi instrumen humanis.
Kemudahan akses layanan publik ini mencerminkan kualitas operasional aparatur sipil negara era digital yang menolak terjebak rutinitas sebatas pameran benda mati. "Humas bukan sekadar menyampaikan apa yang dilakukan pemerintah, melainkan juga menjadi jembatan yang menghadirkan komunikasi yang kredibel, humanis, dan dapat dipercaya," pungkas Widodo menegaskan arah baru kehumasan pemerintah.
Ikuti terus informasi seputar rangkaian puncak AHI 2026 hanya di humasindonesia.id dan prindonesia.co. (Arfrian R.)
- BERITA TERKAIT
- Daftar Lengkap Pemenang AHI 2026
- Malam Puncak AHI 2026 Anugerahkan 178 Trofi Kepada 80 Institusi Pemenang
- Di AHI 2026, Monumen Pers Nasional Dorong Transparansi Lewat Layanan Arsip Digital
- Wakil Wali Kota Surakarta Desak GPR Setop Monolog
- Pembicara di Konferensi AHI 2026 Soroti Berbagai Tantangan Komunikasi Kiwari