Organisasi sarjana komunikasi menegaskan kembali komitmen kuatnya untuk terus mengembangkan ilmu komunikasi yang lebih adaptif mengikuti perkembangan zaman sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Peringatan hari ulang tahun ke-43 Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) tidak hanya menjadi momentum peringatan perayaan perjalanan organisasi, tetapi juga mendorong kontribusi ilmu komunikasi dalam menjawab tantangan zaman. Sebagaimana ditekankan oleh Ketua Umum (Ketum) ISKI Atwar Bajari di Universitas Tarumanegara (Untar), Jakarta, pada hari Jumat (16/10/2026).
Menurut Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran menyoroti bahwa lulusan ilmu komunikasi perlu memiliki kompetensi yang lebih luas daripada sekadar memproduksi pesan. “Kemampuan penalaran riset, pemahaman terhadap manusia, dan penerapan etika menjadi bekal penting di tengah perkembangan teknologi. Zaman terus berganti dan tanggung jawab kita terhadap manusia harus semakin besar,” ujarnya dikutip dari Republika, Jumat (16/10/2026).
Tentang AI dan Etika Pengguna
Untuk itu, terang Atwar, ISKI perlu memperkuat kontribusi melalui pengembangan kapasitas anggota, peningkatan kompetensi dan kolaborasi lintas sektor antara akademisi, praktisi dan industri. Adaupun pentingnya penguatan kontribusi ilmu komunikasi turut disampaikan meskipun di hari yang berbeda oleh Guru Besar Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Rama Kertamukti dalam sesi diskusi bertajuk “Ketika AI Mengubah Komunikasi: Apa yang Harus Kita Kuatkan?” di Untar, Jakarta, Senin (12/10/2026).
Menurut Rama, penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) telah mengubah proses komunikasi secara signifikan yang berdampak pada terbukanya peluang proses komunikasi yang lebih cepat dan efisien sekaligus terbukanya polemik tentang autensitas, bias, privasi, kepengarangan dan akuntabilitas.
Alih-alih cakap dalam memanfaatkan AI, Rama menegaskan pengguna dan pelaku komunikasi untuk lebih bijak mempertimbangkan konteks, etika, dan tanggung jawab manusia. “Penggunaan kecerdasan buatan tetap memerlukan penilaian dan pengawasan yang ketat dari manusia, terutama ketika berkaitan dengan informasi yang berdampak luas bagi publik,” jelasnya.
Senada, pandangan akademisi diperkuat oleh praktisi yaitu CEO Prologue Indonesia Dody Siregar bahwa pesatnya AI yang mengubah cara kerja industri dapat dimanfaatkan untuk membantu riset, monitoring, pemetaan percakapan, analisis data, hingga deteksi early warning system terhadap isu maupun risiko reputasi.
Namun, lanjut Dody, bantuan teknologi tersebut ditempatkan sebagai alat untuk memperluas kemampuan manusia dalam mengolah informasi dan menemukan pola. “Sementara interpretasi konteks, stakeholder, risiko, etika dan pengambil keputusan sejatinya akan menjadi tanggung jawab manusia,” tegasnya. (Evira Anyelia)
- BERITA TERKAIT
- Perayaan HUT ke-43 ISKI, Ketum Dorong Lulusan Komunikasi Lebih Adaptif dan Bijaksana
- Akademisi Tawarkan Kombinasi Teori Barat dengan Perspektif Asia dalam Ilmu Komunikasi
- Prodi Ilkom UIN Alauddin Belajar Penerapan Teori dalam Praktik PR di RRI Makassar
- Pesan yang Memberikan Manfaat Jadi Tantangan Komunikasi di Era “Virtual Reality”
- Kata Akademisi UNP Tentang Strategi “Government Branding”