Transformasi Media Dimulai dari Budaya Perusahaan

PRINDONESIA.CO | Selasa, 09/02/2021
Perlu adanya perubahan budaya perusahaan, memahami ekosistem, dan cara kerja
Dok. Istimewa

Industri media konvensional ramai-ramai bertransformasi ke ranah digital untuk memenuhi kebutuhan dan perubahan perilaku audiensnya. Yang perlu digarisbawahi, bertransformasi ke arah digital tidak sebatas meng-online-kan konten. Perlu ada perubahan budaya perusahaan, memahami ekosistem dan cara kerjanya.

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Direktur Utama PT Tempo Inti Media, Tbk Toriq Hadad mengatakan, sepanjang tahun 2014 – 2019, pendapatan iklan media cetak mengalami penurunan 7 persen setiap tahun. Sementara pendapatan sirkulasi menurun 8,5 persen per tahun, bahkan sejak tahun 2013 – 2019. Grafiknya terus menurun dan semakin parah sejak negeri ini dihantam pandemi COVID-19. 

Kondisi ini menunjukkan ada perubahan yang harus segera dilakukan. “Jangan sampai terlambat berubah,” ujarnya saat mengiri Rakernas Serikat Perusahaan Pers (SPS), Senin (8/2/2021).  

Di sisi lain, ia melanjutkan, jangan juga terburu-buru. Ada hal-hal prinsip yang mesti diindahkan selain melakukan persiapan matang. Sebab, pada hakikatnya transformasi itu tidak bisa dilakukan dalam waktu sekejap. Tempo misalnya, butuh tiga tahun, tepatnya tahun 2015 – 2017, ketika bertransformasi ke arah digital.

Pertama, transformasi harus dimulai dari budaya perusahaan. Contoh paling mendasar, jika di media cetak, berita baru bisa naik esok hari, di digital tidak terbatas waktu. Perbedaan cara bekerja, sudah pasti akan memengaruhi budaya kerja perusahaan.

Kedua, kesiapan dan kemampuan digital sumber daya manusia. SDM harus mahir menggunakan CMS (content management system), memahami SEO, aktif di media sosial, dan bisa mengukur performa artikel.

Ketiga, menjaga comparative advantage. Caranya, mengevaluasi diferensiasi konten lewat traffic, melakukan analisis dengan melihat page views, unique users,  bouncing rate, dan page per session. “Penting juga untuk mengetahui rubrik atau artikel yang paling banyak dibaca sehingga kita bisa melakukan penguatan pada rubrik tersebut,” ujarnya.

Keempat, menjual konten unggul di tim iklan dan sirkulasi. “Kita harus bisa meyakinkan pembaca. Meskipun berpindah ke digital, kita masih memiliki konten yang baik dan dibutuhkan pembaca,” imbuhnya. Lainnya yang juga mesti ditingkatkan adalah kemampuan account executive iklan. Rubrikasi ulang juga perlu dilakukan untuk menyegarkan konten.

Sementara untuk sirkulasi, model pengembangan sirkulasi digital internasional seperti New York Times dan Guardian bisa menjadi rujukan. Hal ini dibuktikan oleh Koran Tempo yang sejak Januari beralih ke digital. Kini, pelanggan Tempo digital telah mencapai dua kali lipat pelanggan Koran Tempo.

Kelima, dukungan teknologi seperti road map pengembangan teknologi, kecerdasan buatan, data science, dan pengembangan database. Yang terakhir, atau keenam, adalah investasi pada tim pendukung newsroom serta penguatan teknologi.

Pahami Ekosistem

Ketua Harian SPS Pusat Januar P Ruswita mengatakan, transformasi dari media cetak ke digital bukan sekadar meng-online-kan konten media cetak. Lebih dari itu, mengelola konten media digital harus diikuti dengan memahami cara kerja ekosistem digital, seperti media sosial, Google, dan masih banyak lagi.

Di samping itu, kata Januar, media digital butuh teknologi dan infrastruktur web yang sesuai dengan perkembangan inovasi digital. “Media digital juga memungkinkan pengembangan model bisnis yang jauh lebih luas karena didukung dengan big data,” imbuhnya.

Berangkat dari pemikiran tersebut, Pikiran Rakyat lantas bertransformasi dari harian umum menjadi Pikiran Rakyat Media Network (PRMN). PRMN adalah media portal nasional berjejaring yang tersebar di setiap kabupaten maupun kota di seluruh Indonesia.

Kolaborasi Pikiran Rakyat.com dengan media-media on-line di seluruh Indonesia bertujuan untuk membangun model bisnis media digital yang profesional dan independen. Sebagian dari mitra portal PikiranRakyat.com ini dikelola oleh anak-anak muda. (rvh)