Basuki Tri Andayani, Pegadaian: PR adalah Panca Indera Perusahaan

PRINDONESIA.CO | Jumat, 09/07/2021
Jika suatu organisasi diibaratkan sebagai organ tubuh, maka PR harus menjadi panca indera. PR seharusnya menjadi juru dengar dan lihat dulu ketimbang juru bicara.
Dok. PR INDONESIA/Ronny

Supel dan ramah adalah sosok yang melekat dari kepribadian Basuki Tri Andayani, Kepala Departemen Komunikasi Perusahaan PT Pegadaian (Persero). PR INDONESIA berkesempatan menyelami lebih dalam, pria yang baru saja meraih apresiasi The Best Presenter di ajang PR INDONESIA Awards (PRIA) 2021 itu, Jumat (9/4/2021).

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Selama dua jam, ia bercerita tentang tentang pengalamannya selama delapan tahun menjadi nakhoda Departemen Komunikasi Perusahaan. Bersama timnya, ia membangun departemen ini hingga akhirnya BUMN yang memiliki 4.000 outlet dan lebih dari 30 ribu karyawan tersebut memiliki Pedoman Komunikasi Perusahaan. Sejak kali pertama berkecimpung sebagai humas di Pegadaian ia bertekad menjadikan profesi humas naik kelas.

Menurutnya, humas bukanlah sekedar juru foto, juru bicara, pemadam kebakaran, apalagi tempat buangan karyawan bermasalah seperti persepsi banyak orang. Lebih dari itu, humas berperan sebagai jembatan komunikasi antara perusahaan dengan stakeholders baik di kalangan internal maupun eksternal. Dia juga merupakan juru dengar, lihat, rasa, dan analisis yang berfungsi melakukan mitigasi isu, mencegah terjadinya risiko dan krisis yang mampu menciderai reputasi perusahaan dan keberlanjutan bisnis. Bahkan, berperan strategis dalam menentukan kebijakan manajemen. Kepada Ratna Kartika dari PR INDONESIA, ia berkisah.

 

Selamat atas prestasi Pegadaian di ajang PRIA 2021. Apa makna pencapaian ini bagi Anda dan tim? 

Sangat bermakna. Kami percaya ketika berlari sekencang apapun, kalau hanya sendiri, kita tidak akan pernah menjadi juara. Pun dalam bekerja. Ada kalanya kita merasa sudah melakukan yang terbaik, padahal belum tentu.

Kompetisi ini adalah upaya kami untuk belajar dan mengukur sejauh mana kapasitas kami melalui penilaian yang objektif. Sekaligus, ajang untuk memantaskan diri. Selanjutnya, dari sini kami bisa memetakan kekuatan dan kelemahan serta mengevaluasi hal-hal yang masih harus ditingkatkan.