Semarang Bakal Genjot Pariwisata Tahun 2022

PRINDONESIA.CO | Kamis, 30/12/2021
Di tahun mendatang, berkomunikasi dengan digital adalah sesuatu hal yang sudah semestinya menjadi kebiasaan kita. Jika tidak bisa beradaptasi dengan digital, maka produk akan ditinggalkan
Dok. PR INDONESIA

Tahun 2022 menjadi harapan banyak pihak bakal terjadinya pemulihan sektor bisnis dan pariwisata. Tidak terkecuali bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang.

SEMARANG, PRINDONESIA.CO - Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengutarakan, bahwa dengan semakin membaiknya penanganan kasus COVID-19 di Kota Semarang, ia berkeyakinan tahun 2022 bakal semakin pulih dan bangkit sektor bisnis dan pariwisata di wilayahnya.

"Fakta bahwa seminggu terakhir Kota Semarang mencatatkan nol kasus COVID-19, menunjukkan keseriusan sekaligus keberhasilan penanganan pandemi yang kami lakukan," ungkapnya di Semarang, Senin (27/12/2021) dalam acara “Semarang Outlook 2022: Wajah Ekonomi, Pariwisata, dan Komunikasi Pasca Pandemi”, yang diselenggarakan oleh THINK PR bekerjasama dengan MAW Talk.

Acara yang didukung penuh oleh Bank BNI itu, merupakan putaran terakhir dari rangkaian program “Joglosemar Outlook” yang sebelumnya telah dilaksanakan di Yogyakarta (26/11/2021) dan Surakarta (14/12/2021). Tampil sebagai narasumber pada “Semarang Outlook 2022” adalah Wakil Pemimpin BNI Wilayah 5 Semarang Muhamad Jauhary, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang Indriyasari, dan Co-Founder THNIK PR Ayu Kusuma.

Hendy, sapaan karib Wali Kota Semarang, melanjutkan, bahwa dengan semakin melandainya kasus COVID-19 di kotanya, maka Pemkot dan masyarakat Semarang kini bisa berkonsentrasi untuk menggenjot sektor non-kesehatan. “Maka di tahun 2022, kami di Pemerintah Kota Semarang akan mencoba gas pol dalam pengembangan bisnis dan pariwisata,” ungkapnya.

Mengutip data Disparbud Kota Semarang, sepanjang dua tahun terakhir jumlah kunjungan wisatawan di “Kota Lunpia” memang merosot drastis dibanding pencapaian tahun 2019 yang disebut sebagai masa kejayaan pariwisata. Pada tahun itu, tercatat 7,2 juta wisatawan nusantara dan 82 ribu wisatawan mancanegara berkunjung ke Kota Semarang. Sedangkan pada 2021 hingga 27 Desember, hanya 2,4 juta wisatawan domestik dan 30 turis mancanegara. “Target kami pada 2022 semoga mampu mendatangkan 3,6 juta wisatawan nusantara dan 7.447 wisatawan mancanegara,” ujar Indriyasari yang sering disapa Iin. 

Menurut Iin, untuk menyambut target wisatawan sebanyak itu, pihaknya dengan para pelaku wisata telah menyiapkan beragam destinasi dari wisata buatan hingga wisata religi, standar protokol kesehatan sesuai panduan CHSE, hingga pemanfaatan platform digital. “Semua itu menunjukkan keseriusan kami untuk kembali meningkatkan kunjungan pariwisata tahun 2022,” imbuhnya.

 

Ekosistem Digital

Di sektor perbankan, dukungan terhadap pengembangan bisnis dan pariwisata di Kota Semarang, secara khusus, datang dari BNI. Menurut Jauhary, BNI sangat komit dan concern dalam mendukung pemulihan ekonomi nasional. Tidak terkecuali di sektor UMKM dan pariwisata. “Sektor UMKM semakin memegang peranan penting terhadap perekonomian dan kami dorong untuk go ekspor,” ungkapnya. Tak hanya itu. BNI juga terus fokus mengembangkan ekosistem unggulan berbasis digital. 

Itulah sebabnya, sepanjang 2021 – 2023, BNI telah dan akan terus membangun digital platforms yang dilengkapi dengan produk dan layanan sesuai dengan kebutuhan nasabah. Disamping itu, “Kami akan memperluas jangkauan distribusi melalui digital ecosystem, open banking, dan kemitraan,” tegas Jauhary. 

Merangkum dua perspektif sebelumnya, Ayu Kusuma yang berbicara dalam konteks komunikasi optimis bahwa ke depan komunikasi yang semakin relevan dan empatik, akan menjadi arus utama agenda-agenda komunikasi 2022. Ia melanjutkan, sosial media yang berbasis video akan menjadi pilihan utama orang untuk mendekatkan produk dengan konsumennya, serta komunitas yang akan mempunyai kekuatan lebih dan berkembang. Perpaduan penggunan PESO sebagai kegiatan public relations yang efektif juga akan menjadi tren di 2022. 

"Intinya, di tahun mendatang, berkomunikasi dengan digital adalah sesuatu hal yang sudah semestinya menjadi kebiasaan kita. Jika tidak bisa beradaptasi dengan digital, produk Anda akan ditinggalkan," pungkasnya. (asw)