HOME » EVENT » PRIA

Meneropong Peran PR di Masa Depan

PRINDONESIA.CO | Kamis, 24/03/2022 | 1.008
Dengan memahami esensi dari kemanusiaan, PR dapat merangkul masyarakat dengan lebih atraktif, menjangkau dengan jangkauan yang lebih masif melalui apa pun medium komunikasinya.
Dok.PR INDONESIA

Ketika berkomunikasi digital, bagi perusahaan yang ingin tampil beda dan spesifik,  salah satu caranya adalah dengan menampilkan sisi humanitas.

 

SEMARANG, PRINDONESIA.CO – Seperti yang diyakini  oleh Prita Kemal Gani, founder dan CEO LSPR Communications and Business Institute di acara Conference Session PR Indonesia Awards (PRIA) 2022 bertajuk “Beyond Digital Communication: Humanism, Technology, and Empathy”. Pada acara yang diselenggarakan oleh PR INDONESIA di Semarang, Rabu (23/3/2022), ia berbagi pengalaman tentang pentingnya menumbuhkan humanisme perusahaan baik internal maupun eksternal.

Perempuan peraih gelar doktor kehormatan dari Conventry University ini awalnya menyampaikan fakta Ratu Elizabeth II dari Britania Raya dapat bertahta selama 70 tahun. Ternyata tak lain karena Ratu selalu tampil dan terlihat oleh masyarakat Inggris yang menunjukkan sesuatu agar dapat dilihat kepemimpinan beliau yang bijaksana. Dari fakta ini, Prita menjelaskan, yang dimaksud ‘bisa dilihat’ adalah bisa dipercaya untuk membuat percakapan dan menjalin hubungan terhadap target sasaran. “Jadi, ini soal bagaimana cara agar branding perusahaan dapat tersampaikan dengan baik sehingga menimbulkan kepercayaan bagi stakeholder,” ungkap Prita.

Selain bisa terlihat, menurut Prita, humanisme juga berkaitan dengan pentingnya PR mengembangkan kemampuan dalam merespons unsur humanisme PR dengan cepat. Dengan memahami esensi dari kemanusiaan, PR dapat merangkul masyarakat dengan lebih atraktif, menjangkau dengan jangkauan yang lebih masif melalui apa pun medium komunikasinya.

 

Ekspektasi untuk PR di Masa Depan

Di tengah masifnya perkembangan teknologi, Prita berpendapat, manusia tetaplah manusia. Kekuatan teknologi semestinya dapat digunakan oleh PR untuk mendengarkan dan merasakan kebutuhan audiens. “Begitulah peran PR yang diharapkan untuk masa depan,” imbuhnya.

Praktisi PR dapat menampilkan sisi humanitas perusahaan sebagai strategi membangun reputasi dengan storytelling. Metode storytelling berpotensi mewujudkan reputasi yang kuat dan unik untuk perusahaan,” katanya.

Upaya ini dapat dimulai dari membangun kebaikan dari sisi manajemen, fisik hingga finansial perusahaan, termasuk kebaikan CEO yang dikomunikasikan secara sentral. Sehingga, kebaikan ini dapat menyentuh dan membekas di ingatan audiens. “Satu kebaikan akan mewakili seluruh sisi kebaikan mengenai produk atau perusahaan,” ungkapnya.

Hal baik tersebut akan mendatangkan empati yang autentik. Untuk merealisasikan humanisasi, PR baik dalam komunikasi digital maupun tulisan, sudah selayaknya terbiasa peka. Kepekaan ini selanjutnya akan menjadi kebiasaan. Dengan demikian praktisi PR dapat dengan mudah mampu melakukan improvisasi empati di berbagai bidang, termasuk dalam tulisan yang menjadi ciri khas perusahaan. (akn)