3 Cara Membangun Hubungan Harmonis dengan Media

PRINDONESIA.CO | Minggu, 05/06/2022
Aktivitas spamming yang dilakukan PR secara tidak langsung mengganggu hubungan dengan media.
Dok.Istimewa

Tuntutan untuk selalu mendapatkan pemberitaan positif yang masif di media sering kali membuat  praktisi public relations (PR) melakukan spamming kepada rekan media. Hal ini tentu saja mengganggu hubungan baik antara PR dengan media.

JAKARTA. PRINDONESIA.CO - Sudah menjadi tugas PR memastikan penyebaran informasi atau pesan dapat diterima oleh target audiens secara luas. Media pun menjadi rekan strategis untuk membantu PR dalam menjalankan tugasnya. Namun, tanpa sadar PR sering kali melakukan spamming kepada rekan-rekan media.

Beberapa aktivitas spamming antara lain menanyakan kapan beritanya tayang, membanjiri e-mail media dengan kiriman rilis yang beritanya tidak sesuai dengan kebutuhan dari target audiens media yang bersangkutan. Hingga, tak segan mendikte wartawan terkait informasi yang mesti disampaikan kepada publik. 

Kebiasaan ini jika diteruskan bisa berakibat mengganggu hubungan antara media dengan PR. Bahkan, dapat membuat relasi di antara keduanya semakin berjarak. Hal ini dikarenakan media menganggap PR sudah mengintervensi kemerdekaan pers.  

PR Manager Amtrak Jason Abrams seperti yang dilansir dari  PR Daily, Senin (23/5/2022), membagikan tiga tips. Tips ini bertujuan agar PR dapat mengubah pola pikir jurnalis, membangun hubungan yang baik dengan rekan-rekan media (media relations), serta mendapatkan pemberitaan yang diinginkan. Apa saja?

1. Pelihara Hubungannya, Jangan Sekadar Memiliki Daftar Media

Praktisi PR hendaknya rutin memperbarui database media. Mulai dari kabar terbaru industri media hingga perpindahan jurnalis dari satu media ke media lain. Untuk mengetahui perkembangan itu, PR bisa berlangganan Telum Media. Yakni, platform media intelijen di Asia, Australia, dan Selandia Baru yang berisi tentang media request, berita dan database media, serta berpartisipasi mendorong interaksi yang lebih baik antara jurnalis dan profesional PR.

Jangan lupa, kata Abrams, ada kata relations di dalam media relations. Maka, penting bagi PR untuk membangun hubungan yang kuat dengan para jurnalis. Harapannya, terbangun hubungan timbal balik. 

2. Jadilah Pembaca bahkan Penggemar bagi Jurnalis

Sebaiknya, praktisi PR membaca situs-situs berita yang bekerja sama dengan mereka secara teratur. Jangan baru membaca dan mempelajari karakter situs tersebut pada saat ada penawaran kerja sama. Bahkan, sebaiknya PR mengaktifkan boks notifikasi di ponsel sehingga tidak ketinggalan ketika ada berita-berita terbaru dari media yang bersangkutan. Dengan begitu, PR dapat membangun kedekatan dengan ikut berinteraksi memberikan komentar, like, atau membagikan kembali berita mereka.

3. "Multichannel"

Kita sering kali merasa tidak nyaman ketika mendapat telepon (phone anxiety) dari rekan jurnalis apalagi ketika organisasi sedang diterpa isu/kasus/krisis. Padahal, kata Abrams, telepon merupakan cara terbaik selain pertemuan tatap muka.

Keunggulan dari membangun hubungan melalui sambungan telepon adalah memungkinkan PR untuk memberikan tanggapan secara cepat. "Selain itu, menunjukkan kepada mereka bahwa kita mudah dijangkau kapan dan di mana pun," ujarnya.  

Di era digital seperti sekarang, PR dapat memanfaatkan keberadaan media sosial sebagai tahap awal berkenalan. Sebelum akhirnya membawa percakapan yang lebih formal melalui e-mail. "E-mail merupakan media yang paling andal dan sering digunakan oleh PR untuk pitching," tutupnya. (nom)

Sumber: https://www.prdaily.com/3-timeless-tips-to-score-more-press/