
Tak dapat dipungkiri, praktisi humas di lingkungan pemerintah daerah kerap dianggap hanya sebagai juru foto/video hingga pembuat rilis. Padahal, humas adalah garda terdepan instansi sekaligus perpanjangan tangan seorang pemimpin daerah dalam menyampaikan informasi.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Isu inilah yang ditekankan oleh Kepala Balai Diklat Keagamaan Kota Padang Khairul Amani. Menurut Khairul, dalam rangka membangun citra terbaik institusi, praktisi humas harus mampu beradaptasi mengikuti perkembangan era digital, memiliki cara berpikir, serta wawasan yang lebih luas dibandingkan ASN lain.
"Setiap agenda yang digelar oleh instansi pasti melibatkan humas untuk mendokumentasikan kegiatan. Namun, bukan berarti pekerjaan humas sebatas menjadi tukang foto dan video," ujarnya saat mengisi Pelatihan Fotografi Dan Videografi Kemenag Provinsi Sumatera Barat dan Jambi, Kamis (26/05/2022).
Pada hakekatnya, humas adalah pusat data dan informasi seluruh program yang ada di institusi. Untuk itu, humas harus memiliki keberanian dalam menyampaikan informasi serta mengawal isu – isu yang berkembang, baik bersifat faktual ataupun hoaks. Di samping itu, mampu bergerak cepat, terlibat dalam mengatasi krisis, sekaligus membangun citra positif.
Baginya, dokumentasi hanyalah sebagian kecil dari pekerjaan teknis seorang praktisi humas. Masih banyak kompetensi lain yang penting untuk dimiliki. Seperti, menguasai kaidah penulisan siaran pers yang benar, teknik fotografi dan videografi, membangun hubungan dengan media, dan lainnya.(nom)
- BERITA TERKAIT
- Menyoal Rentetan Teror Terhadap Tempo
- Soal Komunikasi Empati dan Kecakapan Menjawab Kritik dalam Polemik RUU TNI
- Pentingnya Komunikasi dan Koordinasi, Belajar dari Kasus Minyakita 1 Liter
- Menyoal Kemerosotan Kepercayaan Publik Terhadap Pemerintah
- Wamen Komdigi Nezar Patria Tegaskan Pentingnya Komunikasi Publik yang Efektif