
Salah satu sumber krisis berasal dari eksternal. Oleh sebab itu, organisasi penting memiliki standard operating procedure (SOP) komunikasi eksternal untuk menghadapi krisis.
Oleh: Moch N. Kurniawan, Dosen Ilmu Komunikasi Swiss German University
JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Kesadaran organisasi tentang pentingnya memiliki standard operating procedure (SOP) komunikasi eksternal dan krisis biasanya baru terasa setelah mengalami masalah. Simulasinya seperti berikut ini: Instansi memilih menunda membuat SOP. Tiba-tiba, ada pernyataan yang diunggah oleh salah satu pegawai dengan menggunakan kapasitasnya di institusi, viral di media sosial. Krisis pun tak terelakkan.
Tidak sampai sebulan berikutnya, terjadi kecelakaan kerja di institusi hingga merenggut nyawa korban. Operasional bisnis pun terhenti. Sorotan negatif dengan cepat menyebar di media sosial. Bahkan, media massa nasional hingga internasional.
Saking cepatnya dinamika informasi yang berkembang di media, manajemen tampak kebingungan mengelola krisis. Pernyataan resmi dari manajemen hanya diunggah melalui situs resmi. Pengalaman pahit ini akhirnya mendorong puncak manajemen untuk menginstruksikan pembuatan prosedur komunikasi untuk mencegah berulangnya kejadian serupa.
- BERITA TERKAIT
- Mencetak Paket Komplit PR Spesialis Perbankan
- Evolusi Lanskap Komunikasi, Perspektif Baru Pengukuran
- Peran Kepemimpinan dalam Keberhasilan Mengelola "Stakeholder"
- Kunci Keberhasilan Public Affairs di 2025
- Humas Pemerintah, Mau Dibawa ke Mana?