Pentingnya Riset dalam Membuat “Brand Narratives”

PRINDONESIA.CO | Selasa, 31/10/2023
General Manager Hill+Knowlton Strategies Indonesia Shirley Tangkilisan saat mengisi workhop JAMPIRO #9 di Yogyakarta, Kamis (26/10/2023).
karyasaka.id/PR INDONESIA

Riset merupakan faktor yang menentukan kekuatan narasi dalam membangun brand.

YOGYAKARTA, PRINDONESIA.CO – Kekuatan narasi dalam membangun brand menjadi isu yang mengemuka di workshop bertajuk “Crafting Brand Narratives for Impactful Influence”, kegiatan yang merupakan rangkaian dari acara Jambore PR INDONESIA (JAMPIRO) #9 yang diselenggarakan oleh PR INDONESIA di Yogyakarta, Kamis (26/10/2023).   

Menurut General Manager Hill+Knowlton Strategies Indonesia Shirley Tangkilisan yang mengisi workshop pada siang hari itu, narasi merek (brand narratives) adalah cerita atau tema dari positioning yang mau diangkat oleh suatu brand atau organisasi. Brand narratives menentukan sebuah merek dikenal dan dipahami oleh audiensnya. “Kita mau engage audiens, menjual produk, atau memperkenalkan diri?” ujarnya seraya bertanya.  

Nah, untuk dapat menjawab itu, Shirley menekankan pentingnya melakukan riset. Mengapa demikian? Sebab, kata perempuan yang telah 15 tahun berkecimpung di dunia public relations (PR) ini, semua akan kembali kepada data.

Menurut Laporan We Are Social pada Januari 2023, 53 persen populasi Indonesia berusia di bawah 34 tahun. Dari jumlah tersebut, tercatat 167 juta orang aktif bermain media sosial. Mencari informasi adalah alasan utama bagi orang-orang untuk menggunakan internet.

Masih dari data tersebut, tercatat orang Indonesia menghabiskan waktunya rata-rata 3 jam 18 menit di media sosial. Sementara hanya 1 jam 34 menit untuk membaca rilis media dan berita dalam bentuk media cetak atau digital. WhatsApp, Instagram, Facebook, hingga TikTok, juga telah menjadi pengaruh utama dan informasi bagi banyak orang.

Kondisi ini, kata Shirley, akan memberikan pengaruh yang signifikan di masa depan. Branded content yang relevan dan berbasis nilai akan semakin diminati oleh audiens muda. Sementara strategi cookie-less akan mempengaruhi cara organisasi dalam melacak perilaku daring.

Selain itu, penerapan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga akan meningkat guna memahami pelanggan dan meningkatkan personalisasi. Sementara pengalaman virtual dan cerita imersif menjadi dominan dalam komunikasi di masa depan.

Melalui teknologi, kata Shirley, dapat memudahkan praktisi PR dalam melakukan riset untuk membuat brand narratives yang memenuhi empat aspek. Antara lain, aspek merek dan produk, sektor dan kategori, kultural, hingga kemanusiaan. “Dengan memahami riset dari data seperti media sosial, dan kecerdasan buatan, merek dapat membangun narasi yang kuat dan meraih kepercayaan publik,” tutupnya. (jar)