Industri public relations (PR) di Indonesia memasuki fase strategis, ditandai meningkatnya tuntutan klien terhadap dampak nyata komunikasi. Peran PR tidak lagi sekadar taktis, tetapi menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan bisnis.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI) mengungkapkan bahwa industri public relations (PR) dan komunikasi nasional mengalami transformasi signifikan. Hal itu terungkap dalam hasil studi terbaru mereka bertajuk Tren Belanja Jasa PR dan Optimisme terhadap Industri PR di Tahun 2026, yang dirilis di Jakarta pada Selasa (28/4/2026) lalu.
Ketua Umum APPRI Sari Soegondo menyebut, hasil studi tersebut penting untuk memetakan kebutuhan komunikasi perusahaan di tengah tekanan ekonomi global. Mengingat hasil yang didapatkan mengungkap bahwa klien kini makin menuntut hasil komunikasi yang terukur dan berdampak langsung terhadap bisnis. "Kami sebagai asosiasi juga bisa mendapatkan gambaran apa yang bisa kami lakukan untuk membantu anggota kami dan berkontribusi dalam pengembangan bisnisnya," ujar Sari dikutip dari SWA, Selasa (5/5/2026).
Studi yang dilakukan sejak November 2025 itu melibatkan 24 perusahaan dari berbagai sektor, seperti kesehatan, perbankan, manufaktur, hingga energi. Studi ini digarap bekerja sama dengan tim program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Bisnis dan Ilmu Sosial Unika Atma Jaya Jakarta.
Ketua Tim Riset dari Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Natalia Widiasari menjelaskan, temuan studi secara keseluruhan menunjukkan bahwa industri PR kini dalam transisi menuju peran yang lebih strategis. "Tentunya ini tidak lepas dari kenyataan bahwa industri saat ini menghadapi berbagai tantangan baru seperti algoritma digital, banjirnya informasi, dan tuntutan akan pengukuran kinerja PR yang berbasis pada dampak," tutur dia.
Hal senada juga disampaikan oleh Deputi I APPRI Fardila Astari Rachmiliza. Ia menyoroti perubahan ekspektasi klien yang kini makin menuntut nilai strategis dari fungsi PR. "Hari ini klien tidak lagi bertanya tentang berapa banyak aplikasi, tetapi mulai tanya dampaknya apa, insight-nya apa, kemudian apa kontribusi terhadap bisnis dan kebijakan," ucap Fardila.
Lewat studi ini, kata dia, juga mengungkap tantangan yang dihadapi fungsi PR kini makin kompleks, seiring perubahan lanskap digital dan dinamika komunikasi yang kian cepat. Untuk itu, ia pun menegaskan bahwa posisi PR di dalam organisasi tidak lagi bisa dipandang sebagai fungsi teknis semata, melainkan harus naik menjadi peran yang lebih strategis.
Temuan Kunci
Adapun hasil studi tersebut menunjukkan sejumlah temuan kunci. Dari sisi belanja komunikasi, studi menunjukkan variasi yang cukup lebar. Sebagian perusahaan mengalokasikan anggaran hingga miliaran rupiah per tahun, sementara sebagian lainnya masih berada pada level ratusan juta rupiah. Selain itu, sekitar 88% klien cenderung memilih konsultan PR lokal karena dinilai lebih memahami konteks sosial dan budaya Indonesia.
Meski begitu, kesadaran pimpinan perusahaan terhadap pentingnya komunikasi belum sepenuhnya merata. Sekitar 46% responden masih ragu meningkatkan investasi komunikasi, terutama karena pertimbangan biaya.
Di tengah berbagai tantangan, studi ini juga mengungkap prospek industri PR yang dinilai tetap positif. Lebih dari separuh responden menyatakan sangat optimistis terhadap pertumbuhan sektor ini dalam 3–5 tahun ke depan, disusul mayoritas lainnya yang juga optimistis. Tercatat, hanya ada 2% responden yang menilai kurang optimistis.
Optimisme ini didorong oleh meningkatnya kebutuhan akan manajemen reputasi (41%), kompleksitas isu dan krisis (29%), pemanfaatan teknologi dan data (18%), serta tuntutan terhadap regulasi, transparansi, dan akuntabilitas publik (12%). (Fadhil Pramudya)
- BERITA TERKAIT
- Studi APPRI Ungkap Industri PR di Indonesia Tengah dalam Fase Strategis
- 3 Kesalahan yang Wajib Dihindari Praktisi PR saat Menghubungi Jurnalis
- 4 Pilar Komunikasi Adaptif, Kunci bagi Pemimpin Organisasi Hadapi Krisis
- Ini 5 Strategi Agar Kampanye Komunikasi Internal Lebih Berdampak
- Respons Lambat Picu Krisis Baru, Ini 4 Cara Menghindarinya