Perubahan perilaku konsumen di era digital membuat kepercayaan kini menjadi aset paling penting bagi brand, melampaui sekadar visibilitas atau popularitas di ruang digital.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Selama bertahun-tahun, strategi pemasaran digital berfokus pada visibilitas melalui peringkat pencarian, jumlah klik, impresi, hingga traffic. Namun, pola tersebut mulai bergeser. Brand tidak lagi cukup hanya tampil di berbagai platform, tetapi juga harus mampu membangun kredibilitas agar dipercaya publik.
CEO of PR Pundit Havas Red Archana Jain menuturkan, lanskap pemasaran dan komunikasi berubah seiring meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Ia juga menyebut bahwa konsumen juga makin kritis terhadap pesan pemasaran. "Brand tidak lagi ditemukan karena memiliki peringkat tinggi, tetapi karena cukup dipercaya untuk dijadikan referensi,” ujarnya dikutip dari tulisannya di BW Marketing World, Rabu (6/5/2026).
Ia juga menekankan bahwa indikator seperti klik dan impresi mulai kehilangan dominasi sebagai ukuran utama keberhasilan komunikasi pemasaran. Sebagai gantinya, kata dia, faktor kepercayaan menjadi elemen yang menentukan loyalitas dan keterlibatan audiens. "Kepercayaan kini menjadi mata uang baru dalam visibilitas,” ucap Archana.
Pembentuk Makna
Archana menjelaskan, peran PR pun kini berubah terlihat dari cara brand membangun relevansi. Menurutnya, di era digital seperti sekarang, audiens tidak lagi tertarik pada interaksi sesaat, tetapi menginginkan keterlibatan yang berkelanjutan. "Relevansi tidak dibangun dari volume percakapan, tetapi dari percakapan yang bermakna," paparnya.
Peraih gelar Magister di bidang Business Economics dari Delhi University itu menggarisbawahi pentingnya peran PR bagi brand mengingat adanya pergeseran penting dari pendekatan berbasis kampanye menuju pembangunan komunitas.
Bagi Archana, brand yang mampu mendengar komunitas dan membangun percakapan secara autentik dinilai lebih mudah memperoleh legitimasi. "Komunitas bahkan dapat menjadi pendukung utama brand ketika terjadi krisis atau tekanan reputasi," tuturnya.
Secara garis besar, simpul Archana, perhatian publik lebih mudah diperoleh melalui pengalaman yang bermakna dibanding sekadar paparan iklan. Oleh karenanya, lanjut dia, brand perlu mulai merancang pengalaman yang mampu memicu percakapan organik lintas platform dengan audiens. "Brand yang berhasil membangun kekuatan emosional cenderung lebih mudah menciptakan percakapan yang bertahan lama di ruang publik," pungkasnya. (Fadhil Pramudya)
- BERITA TERKAIT
- Kepercayaan Publik Jadi Aset Baru bagi “Brand” di Era Sekarang
- Ketika PR Tidak Lagi Berada di “Last Mile”
- Studi APPRI Ungkap Industri PR di Indonesia Tengah dalam Fase Strategis
- 3 Kesalahan yang Wajib Dihindari Praktisi PR saat Menghubungi Jurnalis
- 4 Pilar Komunikasi Adaptif, Kunci bagi Pemimpin Organisasi Hadapi Krisis