Perayaan Iduladha di era media sosial dinilai mengalami pergeseran makna simbolik. Praktik ibadah kurban yang sejatinya sarat nilai keikhlasan dan kepedulian sosial kini kerap tampil sebagai bagian dari ekspresi publik dan pencitraan di ruang digital.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Momentum Iduladha yang setiap tahun identik dengan ibadah kurban dan solidaritas sosial kini dinilai menghadapi tantangan baru di tengah perkembangan komunikasi digital.
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara sekaligus pemerhati media dan budaya digital, Suswinda Ningsih, menilai media sosial telah mengubah cara masyarakat menampilkan praktik keagamaan di ruang publik.
Menurut Suswinda, dokumentasi penyembelihan hewan kurban, unggahan jumlah hewan kurban, hingga foto distribusi daging kini menjadi konten yang lazim dibagikan di berbagai platform digital. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa media sosial telah menjadikan hampir seluruh ekspresi, termasuk amal dan ibadah, bersifat terbuka dan mudah dipertontonkan kepada publik.
“Media sosial telah menjadikan hampir semua ekspresi bersifat publik, termasuk amal dan ibadah. Mulai dari dokumentasi penyembelihan, laporan jumlah hewan kurban, hingga foto bersama daging kurban lazim diunggah ke platform digital,” tulis Suswinda dalam artikel opini yang terbit di Sumbarsatu.com, Jumat (6/6/2025).
Budaya Pencitraan dan Pertunjukan Identitas
Dari perspektif ilmu komunikasi, Suswinda menjelaskan praktik kurban memiliki makna simbolik yang berkaitan dengan keikhlasan, kepatuhan, dan kepedulian sosial. Pandangan tersebut merujuk pada teori interaksionisme simbolik George H. Mead yang menempatkan tindakan manusia sebagai bagian dari pembentukan makna melalui interaksi sosial.
Namun, di era digital, praktik Iduladha dinilai makin dekat dengan budaya pencitraan dan pertunjukan identitas di media sosial. Menurut Suswinda, ruang digital kini tidak hanya menjadi medium berbagi pengalaman spiritual, tetapi juga panggung untuk menunjukkan status sosial maupun citra personal.
Ia menilai kondisi tersebut dapat dijelaskan melalui teori dramaturgi Erving Goffman yang memandang manusia layaknya aktor di atas panggung sosial. Dalam konteks media sosial, praktik pengorbanan berpotensi bergeser dari nilai spiritual menjadi bagian dari strategi komunikasi diri dan pembentukan impresi publik.
Untuk itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga etika komunikasi di tengah budaya digital yang serba terbuka. Ia merujuk pada pemikiran filsuf Jurgen Habermas yang menekankan komunikasi ideal harus dibangun atas dasar kejujuran, saling pengertian, dan bebas dari dominasi simbolik.
Dalam konteks tersebut, Suswinda menilai Iduladha seharusnya tetap dimaknai sebagai ruang memperkuat empati sosial alih-alih sekadar membangun impresi di hadapan publik digital. "Sebab dalam kisah Nabi Ibrahim, tidak ada gimik atau kebutuhan untuk dinilai publik. Hanya ada dialog sunyi kasih sayang manusia dan Tuhannya melalui ujian pengorbanan,” pungkasnya.
- BERITA TERKAIT
- Ini 5 Langkah Bangun Kembali Kepercayaan Pascakrisis
- Profesor UI Sebut Komunikasi Risiko Jadi Kunci Penanganan Bencana
- Menyoal Makna Keikhlasan Iduladha agar Tak Bergeser di Ruang Digital
- Catat, Ini 3 Langkah Bangun Sikap Proaktif bagi Praktisi PR
- Edelman Trust Barometer 2026 Ungkap Soal Kepercayaan Publik dan Insularitas