HOME » EVENT » AWARDS

Penjurian IDEAS 2026: Mengubah Kesadaran Jadi Aksi Nyata

PRINDONESIA.CO | Jumat, 12/06/2026
Penjurian IDEAS 2026 hari pertama yang berlangsung secara daring, pada Rabu (10/6/2026).
Dok. Fadhil Pramudya/PR INDONESIA

Sejumlah peserta dalam penjurian IDEAS 2026 hari pertama, Rabu (10/6/2026), sepakat bahwa komunikasi lingkungan tidak lagi sekadar berfokus pada publikasi kegiatan atau penyampaian komitmen keberlanjutan. Sebaliknya, komunikasi digunakan sebagai instrumen untuk menghubungkan program lingkungan dengan kebutuhan dan kepentingan publik agar dampaknya dapat dirasakan secara lebih luas.

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Mengomunikasikan isu lingkungan menjadi tantangan tersendiri bagi organisasi. Selain harus menyederhanakan isu yang kerap kompleks, program komunikasi juga dituntut mampu membangun pemahaman, mengubah perilaku, dan mendorong keterlibatan berbagai pemangku kepentingan.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu yang disepakati oleh para peserta dalam penjurian Indonesia DEI & ESG Awards (IDEAS) 2026 kategori ESG Communication Program subkategori Environmental, yang digelar secara daring, Rabu (10/6/2026).

Hal itu misalnya terlihat pada program bertajuk Mengomunikasikan Dekarbonisasi Pupuk Kaltim: Dari Efisiensi Energi, Ekonomi Sirkular, hingga Konservasi Alam yang dipresentasikan PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT).

Kepada dewan juri, VP Komunikasi Korporat PT PKT Dwi Agung Wibowo menjelaskan, perusahaan menghadapi tantangan untuk menjelaskan berbagai inisiatif dekarbonisasi yang bersifat teknis dan operasional kepada publik serta pemangku kepentingan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, kata dia, berbagai program keberlanjutan dikonsolidasikan ke dalam satu narasi yang terintegrasi melalui tiga pilar utama, yakni efisiensi energi, ekonomi sirkular, dan konservasi alam. "Kami menyatukan rangkaian program operasional menjadi satu narasi ESG yang konsisten, kredibel, dan berdampak bagi stakeholder," ujar Dwi Agung.

Melalui strategi komunikasi berbasis pendekatan PESO, Dwi Agung menyebut, pihaknya berupaya memastikan isu dekarbonisasi tidak hanya memperoleh eksposur, tetapi juga memperoleh respons yang terukur serta dipahami sebagai langkah nyata yang berdampak terhadap lingkungan dan operasional bisnis.

Lebih lanjut, ia juga memaparkan bahwa aktivitas komunikasi program tersebut dilakukan secara berkelanjutan sepanjang Mei 2025-April 2026. Berbagai aktivitas itu, ungkap dia, di antaranya edukasi ESG bagi jurnalis, stakeholder relations, program budidaya mangrove, hingga amplifikasi sustainability report.

Sementara itu, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) mengangkat pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat melalui kampanye bertajuk From Waste to Wealth. Ketua Tim Kelompok Kerja (Pokja) Humas Untirta Adhitya Angga Pratama memaparkan, lewat kampanye tersebut, pihaknya ingin menyoroti isu strategis berupa krisis iklim, pengelolaan limbah, dan transisi energi. "Program ini menjembatani riset dan praktik melalui kampanye saintek yang terintegrasi untuk mendorong hilirisasi inovasi, meningkatkan literasi publik, dan menciptakan dampak berkelanjutan," tutur Adhitya.

Kampanye tersebut, kata dia, dijalankan dengan memproduksi sejumlah konten digital. Konten tersebut di antaranya yakni 24 video reels edukasi, 12 flyer edukasi, 1 konten YouTube, hingga 1 microsite.

Hasilnya, program tersebut mampu membawa sejumlah dampak, yakni peningkatan literasi pengelolaan limbah, mendukung ekonomi sirkular dan energi terbarukan, mendukung visi HITS dan Green Untirta, menghasilkan capaian penghargaan bagi Humas Untirta di tingkat nasional, dan membuka peluang riset dan pilot project masyarakat.

Agen Komunikasi Lingkungan

Menyuarakan program kampanye komunikasi lingkungan juga dilakukan oleh Universitas Riau (Unri). Dengan menghadirkan program bertajuk Green Ambassador, Unri menyoroti pentingnya peran komunitas internal sebagai agen komunikasi lingkungan.

Sekretaris Badan Pengelola Usaha (BPU) Unri Clara Yolandika dalam pemaparannya menyampaikan, program itu dilaksanakan dengan latar belakang adanya kesenjangan antara potensi biodiversitas kampus dan keterlibatan sivitas akademika yang belum optimal.

Clara menyebut, pihaknya pun menempatkan mahasiswa sebagai aktor utama dalam menyebarluaskan nilai-nilai keberlanjutan dan membangun budaya peduli lingkungan di lingkungan kampus maupun masyarakat. "Selain itu, mahasiswa sebagai Green Ambassador juga mengeksplorasi biodiversitas yang ada di Universitas Riau," ucapnya.

Dalam implementasinya, kata dia, Green Ambassador tersebut dilibatkan sebagai juru kampanye utama yang menjadi penggerak komunitas dalam menghubungkan pesan ESG. Clara mengungkapkan, program turunan dari kampanye tersebut disampaikan melalui talkshow TV dan radio, kampanye media sosial terintegrasi, publikasi media massa, videotron dan signage, hingga amplifikasi di website dan UNRI TV.

Hasilnya, program tersebut mampu membentuk 50 orang duta lingkungan aktif dan berhasil menjangkau 80% mahasiswa yang memahami konsep biodiversitas kampus. Tak hanya itu, program tersebut juga mampu menghasilkan 60 publikasi media, 20 artikel website, hingga 10 program UNRI TV dengan raihan total 2 juta reach audiens dan 1,5 juta digital impressions. (Fadhil Pramudya)