HOME » EVENT » AWARDS

Komunikasi ESG Perlu Hadirkan Bukti Dampak Nyata yang Terukur

PRINDONESIA.CO | Selasa, 14/07/2026
Executive Director, Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika saat menjadi pembicara dalam sesi konferensi The 5th Indonesia DEI & ESG Awards (IDEAS) 2026, Kamis (9/7/2026).
Dok. PR INDONESIA.

Komunikasi ESG tidak lagi cukup berhenti pada penyampaian komitmen, melainkan harus mampu membuktikan dampak nyata yang terukur melalui kolaborasi, pemberdayaan masyarakat, serta komunikasi yang transparan dan relevan bagi publik.

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Organisasi perlu menggeser pendekatan komunikasi keberlanjutan dari sekadar menyampaikan komitmen menjadi menunjukkan dampak yang nyata dan terukur. Pendekatan tersebut dinilai penting agar komunikasi ESG tidak berhenti sebagai narasi korporasi, tetapi mampu memperkuat kepercayaan publik sekaligus menciptakan perubahan sosial yang berkelanjutan.

Pandangan tersebut disampaikan Executive Director, Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika, saat menjadi pembicara dalam sesi konferensi The 5th Indonesia DEI & ESG Awards (IDEAS) 2026 bertajuk Dari Nilai ke Dampak: Komunikasi DEI dan ESG untuk Indonesia yang Berkelanjutan, yang digelar di Ambhara Hotel, Jakarta Selatan, Kamis (9/7/2026).

Dalam paparannya, Mona menjelaskan bahwa komunikasi keberlanjutan harus dibangun di atas dampak yang benar-benar dirasakan masyarakat. Menurutnya, komunikasi hanya akan memiliki kredibilitas apabila didukung implementasi program yang konsisten. "Komunikasi yang berdampak harus berangkat dari aksi nyata. Ketika dampak sosial dapat diukur, cerita yang dibangun akan memiliki makna dan mampu menumbuhkan kepercayaan publik," ujar Mona.

Dalam praktiknya ia mencontohkan dengan DBS Foundation. Di sana, kata Mona, pihaknya mengembangkan pendekatan Impact Beyond Banking, yakni memperluas kontribusi perusahaan melampaui layanan keuangan dengan memperkuat ketahanan sosial dan finansial masyarakat. Pendekatan tersebut diwujudkan melalui program jangka panjang yang berfokus pada peningkatan akses terhadap kebutuhan dasar, inklusi keuangan, pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan kelompok rentan.

Menurut Mona, salah satu isu yang kini menjadi perhatian adalah meningkatnya jumlah masyarakat lanjut usia di kawasan Asia. Karena itu, DBS Foundation mulai mengarahkan berbagai inisiatifnya untuk membantu masyarakat memasuki usia lanjut dengan sehat, mandiri, dan bermartabat.

Selain isu penuaan penduduk, DBS Foundation juga menempatkan pengembangan talenta digital sebagai bagian dari strategi menciptakan dampak sosial. Salah satunya melalui Coding Camp bersama Dicoding yang memberikan akses pelatihan keterampilan digital, kesiapan kerja, dan literasi keuangan bagi pelajar vokasi maupun mahasiswa dari berbagai latar belakang, termasuk perempuan, penyandang disabilitas, serta masyarakat di wilayah nonperkotaan.

Menurut dia, prinsip DEI atau keberagaman (diversity), kesetaraan (equity), dan inklusi (inclusion) juga menjadi bagian penting dalam strategi komunikasi keberlanjutan. Oleh karenanya, berbagai program dirancang untuk memastikan kelompok yang selama ini kurang terjangkau memperoleh kesempatan yang sama dalam meningkatkan kapasitas ekonomi maupun keterampilan. "Kami ingin memastikan kelompok yang selama ini kurang mendapatkan akses memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang melalui peningkatan keterampilan, inklusi keuangan, dan partisipasi ekonomi," katanya.

Mengomunikasikan Dampak

Tak hanya melalui program sosial, DBS Foundation juga memperluas dampaknya dengan mendukung pertumbuhan social enterprise dan business for impact. Hingga kini, yayasan tersebut telah mendukung 28 organisasi di Indonesia yang bergerak di bidang pendidikan, pemberdayaan perempuan, inklusi keuangan, hingga pengurangan kesenjangan sosial melalui skema hibah dan pendanaan.

Mona menilai, keberhasilan program sosial tidak cukup diukur dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari kemampuan organisasi mengomunikasikan dampaknya secara konsisten. Oleh karena itu, kata dia, strategi komunikasi menjadi bagian penting dalam memperluas jangkauan sekaligus membangun kepercayaan publik terhadap inisiatif keberlanjutan.

Menutup paparannya, ia menegaskan bahwa keberhasilan komunikasi ESG tidak ditentukan oleh seberapa banyak organisasi berbicara mengenai keberlanjutan, melainkan seberapa besar perubahan yang mampu dihadirkan bagi masyarakat. "Ketika dampak nyata mampu diciptakan dan dikomunikasikan secara autentik, maka kepercayaan publik akan tumbuh dengan sendirinya," pungkasnya. (Fadhil Pramudya)