HOME » EVENT » AWARDS

Penjurian IDEAS 2026: Iklim Pendidikan Inklusif bagi Disabilitas

PRINDONESIA.CO | Jumat, 19/06/2026
Penjurian IDEAS 2026 hari kedua, yang berlangsung secara daring, Jumat (12/6/2026).
Dok. Fadhil/PR INDONESIA

Peserta IDEAS 2026 kategori program DEI meyakini bahwa menciptakan inklusivitas di dunia pendidikan yakni dengan memastikan penyandang disabilitas memperoleh ruang yang setara untuk berpartisipasi dan menyampaikan suaranya di hadapan publik.

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Sejumlah peserta dalam penjurian Indonesia DEI & ESG Awards (IDEAS) 2026 kategori program DEI subkategori Disability Inclusion menunjukkan pentingnya penguatan pendidikan yang inklusif bagi penyandang disabilitas.

Hal itu ditekankan di antaranya oleh IPB University serta Direktorat Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) saat penjurian IDEAS 2026 hari kedua, yang berlangsung secara daring, pada Jumat (12/6/2026). Kedua instansi itu menghadirkan program yang sama-sama bertujuan menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas, meski melalui pendekatan yang berbeda.

Kedua instansi itu juga sepakat bahwa upaya mewujudkan pendidikan inklusif tidak hanya dilakukan melalui penyediaan layanan pendidikan yang setara, tetapi juga dengan memastikan penyandang disabilitas memperoleh ruang untuk didengar, berpartisipasi, dan berkembang. Komunikasi pun dimanfaatkan sebagai instrumen untuk memperkuat pemenuhan hak disabilitas sekaligus membangun kesadaran publik tentang pentingnya inklusivitas di dunia pendidikan.

Dalam pemaparannya, IPB University mempresentasikan program Sahabat Inklusi dan Disabilitas IPB (SIDI IPB). Staf Humas IPB University Wahyu Budi Kuntari menjelaskan, program tersebut merupakan bentuk inisiatif yang berupaya memperkuat ekosistem kampus yang ramah bagi mahasiswa penyandang disabilitas.

Ia menyebut, bahwa SIDI IPB hadir sejak Maret 2025 sebagai wadah untuk mewujudkan kampus IPB yang lebih inklusif dan ramah disabilitas. Tak hanya sebagai wadah, SIDI IPB juga merupakan agen edukatif untuk mendorong peningkatan kesadaran, pemahaman, dan empati warga kampus. "SIDI ingin memaksimalkan peran warga kampus dalam memberikan ruang nyaman bagi para penyandang disabilitas," ujar Wahyu Budi dalam pemaparannya.

Untuk memaksimalkan itu, lanjut dia, sejumlah strategi komunikasi pun dilakukan. Di antaranya, yakni diseminasi konten di media sosial internal dan eksternal kampus, publikasi tulisan di platform blogging dan newsletter, hingga menggelar seminar dan workshop.

Hasilnya, program tersebut berhasil meningkatkan reputasi IPB sebagai kampus yang mengimplementasikan budaya inklusi dan ramah disabilitas, mendukung capaian SDGs nomor 4 yaitu menciptakan lingkungan pendidikan terbaik untuk semua orang, hingga mampu meningkatkan kerja sama dengan berbagai instansi yang memiliki visi serupa.

Wadah Pemberdayaan

Sementara itu, Direktorat PKPLK menghadirkan program DEI bertajuk Podcast Keliling Kita Istimewa. Kepala Subbagian Tata Usaha Direktorat PKPLK, Cecep Somantri, menjelaskan bahwa podcast tersebut sebagai wadah media komunikasi publik yang menghadirkan cerita dan inspirasi dari peserta didik disabilitas, guru pendidikan khusus, orang tua, dunia usaha dan dunia industri, hingga para pegiat pendidikan inklusif.

Ia menegaskan bahwa program ini lahir dari kebutuhan untuk mengatasi stigma sosial, keterbatasan informasi, dan rendahnya eksposur terhadap praktik baik pendidikan inklusif di Indonesia. "Program ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana diseminasi informasi, tetapi juga sebagai platform pemberdayaan yang memberikan ruang bagi penyandang disabilitas untuk menyampaikan suara, pengalaman, dan aspirasinya secara langsung kepada publik,” ucap Cecep.

Melalui pendekatan DEI, Direktorat PKPLK menghadirkan narasumber dari beragam disabilitas, latar belakang, dan pengalaman hidup. Ia menekankan bahwa penyandang disabilitas tidak ditempatkan sebagai objek pemberitaan, melainkan subjek utama yang memiliki kesempatan setara untuk berbagi gagasan dan pengalaman kepada masyarakat.

Cecep mengungkapkan bahwa pesan utama yang terus dibangun dalam setiap episode adalah bahwa setiap individu memiliki potensi, kesempatan, dan hak yang sama untuk berkembang serta berkontribusi bagi masyarakat. Narasi itu pun diperkuat melalui storytelling yang mengangkat pengalaman nyata peserta didik disabilitas, guru, orang tua, hingga dunia usaha dan industri. 

Dalam menjalankan program ini, kata dia, pihaknya turut menyasar pemangku kepentingan yang beragam, yakni peserta didik, orang tua, guru dan tenaga kependidikan, pemerintah daerah, dunia usaha dan industri, serta masyarakat umum. "Karena pendidikan inklusif tidak dapat dibangun oleh satu institusi saja, pendidikan inklusif hanya dapat tumbuh melalui kolaborasi seluruh ekosistem," terangnya.

Hasilnya, program ini berhasil memperoleh 3.727 penayangan dari 3 video utama dan 4 konten YouTube Shorts, dengan rata-rata engagement rate mencapai 14,2 persen dan total 75.000 impresi digital. (Fadhil Pramudya)