HOME » EVENT » AWARDS

Penjurian IDEAS 2026: Menggerakkan Perubahan Lewat Komunikasi ESG

PRINDONESIA.CO | Senin, 22/06/2026
Penjurian IDEAS 2026 kategori Program DEI, Insan ESG, dan Insan DEI, yang berlangsung secara daring, Jumat (12/6/2026).
Dok. Fadhil/PR INDONESIA

Di hadapan juri secara daring, Jumat (12/6/2026), para peserta kompetisi IDEAS 2026 kategori Insan ESG sepakat bahwa komunikasi merupakan elemen strategis dalam implementasi ESG. Mereka meyakini bahwa peran sebagai komunikator mesti mampu menerjemahkan isu-isu ESG ke dalam narasi yang relevan, mudah dipahami, dan mampu menggerakkan perubahan.

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Sejumlah peserta dalam penjurian Indonesia DEI & ESG Awards (IDEAS) 2026 kategori Insan ESG hari kedua, Jumat (12/6/2026) menunjukkan bahwa keberhasilan program keberlanjutan tidak hanya ditentukan oleh kualitas inisiatif yang dijalankan, tetapi juga oleh kemampuan mengomunikasikannya secara kreatif, terukur, dan berdampak.

Melalui pendekatan yang beragam, para peserta seperti tergambar dalam presentasi Universitas Riau (Unri), Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), dan IPB University, memanfaatkan komunikasi untuk membangun kesadaran, mendorong keterlibatan, hingga menggerakkan aksi nyata dalam implementasi ESG. Ketiganya menunjukkan bagaimana peran individu menjadi faktor penting dalam menerjemahkan prinsip ESG menjadi gerakan yang dapat dipahami dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Di Universitas Riau, misalnya, Alvi Furwanti Alwie menampilkan perannya sebagai ESG Manager yang mengintegrasikan komunikasi keberlanjutan dengan berbagai program akademik dan pengabdian masyarakat. Melalui pendekatan kolaboratif, ia mendorong penyebarluasan nilai-nilai keberlanjutan di lingkungan kampus sekaligus memperkuat keterlibatan sivitas akademika dalam berbagai inisiatif ESG.

Salah satu bentuk diseminasi yang dilakukan adalah melalui publikasi dan kampanye digital yang melibatkan berbagai kanal komunikasi institusi. Bukti implementasi dan publikasinya juga diperkuat melalui kanal media sosial resmi fakultas.

Dalam pemaparannya, Alvi menekankan pentingnya komunikasi sebagai penghubung antara program keberlanjutan dengan pemangku kepentingan. “Program ESG akan memberikan dampak yang lebih luas ketika mampu dipahami, diterima, dan dijalankan bersama oleh seluruh pihak yang terlibat,” ujarnya di hadapan dewan juri.

Sementara itu, Adhitya Angga Pratama dari Untirta menghadirkan pendekatan yang berbeda melalui inovasi Hits and Green Band (H&G Band). Sebagai Ketua Pokja Humas sekaligus vokalis pada band tersebut, Adhitya menggabungkan kreativitas seni dan komunikasi publik untuk menyampaikan pesan-pesan ESG kepada sivitas akademika dan masyarakat luas.

Dijelaskan bahwa H&G Band lahir sebagai inovasi komunikasi berbasis musik yang mengangkat isu lingkungan, sosial, dan tata kelola melalui lagu-lagu orisinal. Berbagai karya yang diproduksi tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga media edukasi dan internalisasi nilai ESG. “H&G Band merupakan inovasi komunikasi ESG berbasis musik di lingkungan perguruan tinggi yang mengintegrasikan kreativitas, partisipasi, dan distribusi digital dalam penyampaian pesan institusi,” tutur Adhitya dalam presentasinya.

Menurutnya, pendekatan berbasis musik mampu menciptakan kedekatan emosional yang lebih kuat dengan audiens. Hal tersebut tercermin dari capaian distribusi digital dan respons publik terhadap karya-karya yang dihasilkan. “Komunikasi berbasis musik tidak hanya mampu menjangkau audiens secara luas, tetapi juga membangun keterikatan emosional yang kuat, menjadikannya medium yang efektif untuk penyampaian pesan ESG,” ungkapnya.

Kampus Biodiversitas

Lain pula dari dua sebelumnya, Staf Direktorat Kerjasama, Komunikasi, dan Pemasaran IPB University Dimas Ramdhani menyoroti pentingnya komunikasi strategis dalam memperkuat posisi kampus sebagai Kampus Biodiversitas. Lewat amanah yang diembannya, ia mengembangkan berbagai program komunikasi yang bertujuan meningkatkan kesadaran publik mengenai konservasi keanekaragaman hayati sekaligus mendorong partisipasi aktif berbagai pemangku kepentingan.

Melalui kampanye biodiversitas, storytelling, publikasi riset, hingga komunikasi green campus, Dimas berupaya memastikan isu keberlanjutan tidak berhenti pada penyampaian informasi. Dalam konteks ini, katanya, komunikasi dirancang untuk menginspirasi sekaligus mendorong tindakan nyata. “Melalui inovasi komunikasi yang berdampak, kita tidak hanya membagikan informasi, tetapi juga menumbuhkan kepedulian dan aksi nyata untuk keberlanjutan kehidupan," tutur dia.

Pendekatan tersebut menghasilkan berbagai capaian, mulai dari peningkatan jangkauan komunikasi mencapai lebih dari 500 ribu audiens, partisipasi dan interaksi pemangku kepentingan yang terus meningkat setiap tahun, hingga penguatan reputasi IPB sebagai institusi yang berkomitmen pada konservasi dan keberlanjutan. (Fadhil Pramudya)