HOME » EVENT » AWARDS

Kepercayaan Publik dan Komunikasi Strategis, Cara MRT Jakarta Membangun Reputasi

PRINDONESIA.CO | Selasa, 23/06/2026
Head of Corporate Branding Department PT MRT Jakarta Angga Satria Perdana saat berbicara dalam Forum Kebijakan Komunikasi Strategis & HUMAS INDONESIA BUMD Reputation Awards (FOKUS HIBRA) 2026 yang berlangsung di Gedung Peruri, Jakarta Selatan, Kamis (11/6/2026).
Dok. HUMAS INDONESIA

PT MRT Jakarta (Perseroda) menegaskan bahwa reputasi BUMD merupakan aset penting yang perlu dibangun lewat kepercayaan publik dan komunikasi strategis.

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Reputasi tidak lagi sekadar menjadi hasil dari kinerja organisasi, melainkan aset strategis yang menentukan tingkat kepercayaan publik, keberlanjutan bisnis, hingga legitimasi sebuah badan usaha milik daerah (BUMD). 

Hal tersebut ditegaskan oleh Head of Corporate Branding Department PT MRT Jakarta Angga Satria Perdana saat berbicara dalam Forum Kebijakan Komunikasi Strategis & HUMAS INDONESIA BUMD Reputation Awards (FOKUS HIBRA) 2026 yang berlangsung di Gedung Peruri, Jakarta Selatan, Kamis (11/6/2026).

Dalam materinya bertajuk Membangun Kepercayaan, Menguatkan Reputasi: Peran Komunikasi Strategis dalam Mendukung MRT Jakarta dan BUMD DKI Jakarta, Angga menjelaskan bahwa komunikasi strategis memiliki peran penting dalam membangun persepsi positif publik sekaligus memperkuat reputasi organisasi.

Menurutnya, keberadaan MRT Jakarta tidak hanya berfungsi sebagai operator transportasi publik, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem BUMD DKI Jakarta yang berkontribusi terhadap pencapaian visi Jakarta sebagai kota global yang berdaya saing dan berkelanjutan. "Komunikasi menjadi instrumen penting untuk menjembatani kinerja perusahaan dengan persepsi publik. Karena pada akhirnya, kepercayaan yang dibangun akan berpengaruh terhadap reputasi perusahaan dan institusi yang menaunginya,” tuturnya.

Dalam pemaparannya, Angga juga menjelaskan bahwa penguatan reputasi MRT Jakarta dilakukan melalui pendekatan komunikasi yang terintegrasi. Strategi tersebut mencakup pengelolaan reputasi, manajemen merek, komunikasi digital, komunikasi korporat, keterlibatan publik dan komunitas, komunikasi internal, aktivasi kampanye, hingga analisis komunikasi yang dijalankan secara berkesinambungan.

Menurut Angga, pendekatan komunikasi yang terintegrasi diperlukan untuk memastikan seluruh pesan perusahaan dapat diterima secara konsisten oleh berbagai kelompok pemangku kepentingan. "Pilar komunikasi dan penguatan merek MRT Jakarta perlu digerakkan dengan komunikasi yang terintegrasi dan aktivasi merek yang berkelanjutan. Manajemen brand, komunikasi digital, aktivasi kampanye bulanan, kolaborasi dengan komunitas di masyarakat, komunikasi internal, pada ujungnya adalah pengelolaan reputasi BUMD," imbuh Angga.

Ia menambahkan, pada 2026 ini MRT Jakarta mengusung tiga objektif utama, yakni reliable, expansion, dan ownership. Ketiga aspek tersebut, kata dia, menjadi landasan dalam memperkuat posisi MRT Jakarta sebagai moda transportasi publik yang andal sekaligus memperluas perannya dalam pembangunan kota.

Berdampak Langsung

Sebagaimana disampaikan di awal, Angga menegaskan bahwa reputasi merupakan aset strategis yang memiliki dampak langsung terhadap keberhasilan organisasi. Dalam konteks ini, ia menekankan bahwa kepercayaan publik terhadap MRT Jakarta tidak hanya memengaruhi citra perusahaan. "Kepercayaan publik terhadap MRT Jakarta juga berkontribusi langsung pada reputasi BUMD dan kredibilitas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta," tuturnya.

Oleh karenanya, lanjut dia, pengelolaan reputasi harus dilakukan secara menyeluruh kepada seluruh kelompok stakeholder. Bagi publik, reputasi dibangun melalui persepsi bahwa MRT Jakarta merupakan layanan transportasi yang modern, andal, aman, dan memberikan manfaat bagi kota serta masyarakat. Sementara bagi pelanggan, reputasi diwujudkan melalui pengalaman layanan yang konsisten sehingga mendorong loyalitas dan peningkatan jumlah pengguna.

Selain itu, Angga menegaskan bahwa hubungan yang baik dengan media juga menjadi faktor penting agar informasi perusahaan dapat tersampaikan secara akurat, berimbang, dan kredibel. Di sisi lain, reputasi yang kuat turut memperkuat kepercayaan pemerintah sebagai pemegang saham dan regulator melalui kinerja, transparansi, serta kontribusi perusahaan terhadap berbagai kebijakan publik.

Tidak hanya itu, reputasi yang baik juga meningkatkan daya tarik perusahaan di mata mitra bisnis maupun investor. Bagi mitra, reputasi menjadi modal untuk membangun kerja sama strategis dan pengembangan bisnis. Sedangkan bagi investor, reputasi mencerminkan kualitas tata kelola, prospek usaha, dan keberlanjutan perusahaan dalam jangka panjang.

Angga menegaskan bahwa reputasi pada akhirnya akan memengaruhi berbagai keputusan stakeholder terhadap organisasi. Oleh sebab itu, setiap program komunikasi harus diarahkan untuk membangun kepercayaan yang berkelanjutan, alih-alih sekadar menghasilkan publikasi. (Fadhil Pramudya)