Oleh: Endah Oktaviani, S.Ds., M.Ds., Pranata Humas Ahli Madya Kementerian Perindustrian RI Bidang Riset & Ringkasan Kebijakan Indonesia Public Affairs Community
JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Keberhasilan dalam pengembangan dan pembangunan industri sering kali diukur dengan indikator yang jelas terlihat—seperti jumlah pabrik baru, peningkatan nilai investasi, modernisasi mesin, serta teknologi yang lebih canggih untuk mendorong kapasitas produksi. Namun, satu aspek penting sering terabaikan: banyak industri dibangun di atas fondasi ekosistem yang rapuh.
Apa sebenarnya perbedaan antara industri dan ekosistem industri? Ekosistem industri terbentuk melalui interaksi berkelanjutan antara berbagai aktor, termasuk Pemerintah, pelaku usaha, pemasok, lembaga pendidikan dan riset, penyedia layanan industri seperti laboratorium penguji dan lembaga sertifikasi, media, hingga konsumen. Ketika hubungan di antara para aktor ini berjalan harmonis, industri akan tumbuh dengan pesat.
Sebaliknya, jika satu aktor dalam ekosistem tersebut tidak kuat, hal ini dapat mengakibatkan penurunan kinerja di seluruh sektor industri. Ini menunjukkan bahwa industri tidak berdiri secara terpisah, ia hanyalah bagian dari ekosistem yang lebih komprehensif.
Seringkali program-program pengembangan industri terfokus pada penguatan sisi pasokan tanpa mempertimbangkan pertanyaan mendasar: siapa yang akan membeli produk akhirnya? Konsumen biasanya diposisikan sebagai penerima manfaat terakhir. Namun tanpa pasar yang berkembang seiring waktu, pelaku usaha akan ragu untuk berinvestasi. Pasar bukan hanya tujuan akhir dari pembangunan industri, ia adalah komponen krusial dari ekosistem yang perlu dibangun dan dirawat sejak dini.
Dalam perspektif Indonesia Public Affairs Community (IPAC), pembangunan industri modern tidak cukup hanya bertumpu pada investasi, teknologi, dan regulasi. Diperlukan pendekatan public affairs yang mampu membangun kepercayaan, legitimasi sosial, serta kolaborasi lintas pemangku kepentingan sebagai fondasi pertumbuhan ekosistem industri yang berkelanjutan. Industri yang kuat bukan hanya ditopang oleh kapasitas produksi, tetapi juga oleh kualitas hubungan antar aktor yang membentuk ekosistemnya.
Jika pasar menjadi salah satu fondasi penting dalam ekosistem itu sendiri, maka muncul pertanyaan: siapa yang bertugas membangun dan merawat kepercayaan agar pasar tersebut dapat tumbuh secara stabil? Di sinilah peran public affairs menjadi sangat relevan. Public affairs dalam konteks ini tidak hanya berfungsi sebagai instrumen komunikasi, tetapi juga sebagai mekanisme penyelarasan kepentingan, pengelolaan legitimasi sosial, dan pembangunan dukungan terhadap agenda pembangunan industri, lebih dari sekadar jembatan antar kepentingan para aktor terkait, public affairs juga dapat berkontribusi dalam membangun ekosistem (ecosystem builder) sehingga produk atau agenda industri diterima oleh masyarakat dan pasar.
Di tengah berbagai agenda nasional seperti hilirisasi industri, ekonomi sirkular, dan industri halal, pendekatan berbasis ekosistem semakin vital. Perlu diakui bahwa dalam beberapa kasus, baik ekosistem maupun pasarnya belum terbentuk sempurna. Beberapa instrumen pembentuk permintaan masih diperlukan untuk memberikan kepastian kepada industri yang sedang berkembang sesuai dengan arahan agenda nasional—di antaranya adalah penerapan standar nasional, pengaturan mekanisme belanja barang di sektor pemerintah dan BUMN, dan kampanye kesadaran publik. Inilah yang dikenal dengan market pull strategy—strategi modern dalam kebijakan industri yang menyoroti penciptaan dan penguatan permintaan sebagai pendorong utama pertumbuhan.
Dengan pemahaman bahwa perusahaan cenderung berinvestasi ketika mereka melihat peluang nyata di pasar, banyak studi tentang kebijakan inovasi berbasis permintaan menunjukkan bahwa keberhasilan sejumlah besar industri modern tidak hanya bergantung pada kemampuan menciptakan pasokan (technology push), tetapi juga pada kemampuan menciptakan permintaan (market pull) yang kemudian akan memicu gerakan dalam ekosistem industri karena semua aktor percaya bahwa hasil usaha mereka akan diterima oleh pasar.
Peran public affairs dalam gagasan ini diwujudkan melalui beberapa pilar strategi komunikasi publik yang berfungsi sebagai:
1. Pembentuk Tujuan Bersama – Membangun narasi visi bersama sebagai dasar koordinasi di antara aktor ekosistem.
2. Pembentuk Kepercayaan – Menciptakan kepercayaan lintas aktor melalui komunikasi strategis. Contoh, sistem sertifikasi yang terjamin akan meningkatkan partisipasi pelaku usaha menjalankan sistem tersebut.
3. Pembentuk Permintaan – Menggunakan strategi komunikasi dalam kampanye publik yang mengarahkan pada terbentuknya permintaan di segmen pasar tertentu. Contoh, mendorong perusahaan untuk mengadopsi kebijakan penggunaan seragam wastra nusantara, akan meningkatkan permintaan di sektor UMKM batik dan kain tenun tradisional.
4. Pembentuk Identitas Bersama – Membangun narasi identitas nasional (nation branding) secara konsisten. Kebanggaan adalah kunci keberlanjutan preferensi produk. Contoh: slogan “Indonesia Halal Lifestyle” berpotensi jadi identitas bersama untuk sektor industri halal dengan latar populasi muslim terbesar di dunia.
5. Pembentuk Legitimasi Sosial – Menciptakan penerimaan pasar terhadap produk atau inovasi melalui edukasi. Contoh, konsumen menganggap bahwa kualitas produk daur ulang itu rendah. Persepsi ini dapat diubah melalui informasi fakta-fakta edukatif tentang isu keberlanjutan, dengan tujuan akhir meningkatkan penerimaan pasar terhadap produk daur ulang.
Pilar-pilar ini akan menjadi pintu narasi yang memperkuat gagasan “market pull strategy” secara holistik dan berkelanjutan. Dengan adanya kesadaran publik yang terbangun akan menciptakan permintaan pasar yang stabil. Arah penelitian dan inovasi dari pihak industri maupun perguruan tinggi menjadi lebih fokus. Lembaga uji standar mutu dan sertifikasi berinvestasi pada pembangunan infrastruktur mutu seiring meningkatnya preferensi konsumen terhadap produk bersertifikat. Kebijakan dan regulasi pemerintah akan menjadi mercusuar yang memberikan peta jalan bagi pertumbuhan industri melalui pembentukan identitas nasional serta visi kolektif yang sama.
Pada akhirnya, daya saing industri nasional tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memproduksi barang dan jasa, tetapi juga oleh kemampuan membangun kepercayaan, identitas bersama, serta legitimasi sosial yang menopang pertumbuhan pasar secara berkelanjutan. Di sinilah public affairs memainkan peran strategis sebagai arsitek ekosistem yang menyatukan berbagai aktor menuju tujuan pembangunan yang sama, yaitu industri dalam negeri lebih kuat, berdaya saing serta peningkatkan kesejahteraan ekonomi.
- BERITA TERKAIT
- Titik Buta Penguatan Sektor Industri: Pentingnya Bangun Strategi Komunikasi Berbasis Ekosistem
- Hilirisasi di Tengah Guncangan Global: Soal Governance, Bukan Sekadar Krisis
- Peran Public Affairs dalam Pengelolaan Kebijakan di Tengah Dinamika Opini Publik
- Melindungi Publik di Ruang Digital, Membaca Kampanye #AmanBersama dari Bea Cukai
- Strategi PR di Era Bawah Sadar