Strategi PR di Era Bawah Sadar

PRINDONESIA.CO | Jumat, 16/01/2026
Ilustrasi strategi PR di era bawah sadar
doc/thenews.com

Menurut Praktisi Komunikasi Korporat Arief Mujahidin, PR adalah seni membentuk persepsi, mengelola emosi dan mengukir narasi yang bekerja di balik kesadaran. 

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Pikiran bawah sadar memiliki pengaruh yang jauh lebih besar pada perilaku manusia dibandingkan pikiran sadarnya. Hal ini menimbulkan tantangan bagi praktisi komunikasi dan kehumasan yang dalam pekerjaan kesehariannya lebih fokus pada pikiran sadar. 

Menurut pakar psikologi DR Josephy Murphy, dalam buku The Power of Subconscious Mind, pikiran bawah sadar berperan penting dalam membentuk perilaku, keputusan, dan emosi manusia sehari-hari. Pikiran bawah sadar dapat memengaruhi interaksi sosial kita. Sikap kita terhadap orang lain dipengaruhii oleh pikiran bawah sadar kita. Dengan memahami bagaimana pikiran bawah sadar memengaruhi interaksi sosial, kita dapat merancang pola komunikasi yang lebih mumpuni terutama di era digital yang dipenuhi oleh tsunami informasi yang sering menimbulkan distorsi bahkan disinformasi terhadap sebuah fakta. 

Dalam konteks komunikasi publik, terutama di bidang hubungan masyarakat (public relations/PR), dinamika ini menimbulkan tantangan besar. Praktisi PR tak cukup lagi hanya menyusun pesan yang argumentatif dan logis. mereka harus memahami bagaimana otak manusia menyerap informasi secara tak sadar yang akan mengisi pikiran bawah sadarnya, bagaimana emosi membentuk opini, dan bagaimana simbol, visual, atau bahkan nada bicara bisa menanamkan pesan secara halus namun kuat yang akhirnya bisa memengaruhi pikiran sadar dari pihak-pihak yang menjadi sasaran komunikasi.