Komunikasi Satu Pintu Jadi Cara Undip Pastikan Komunikasi Krisis Berjalan Efektif

PRINDONESIA.CO | Jumat, 24/07/2026
Direktur Jejaring Media, Komunitas dan Komunikasi Publik Universitas Diponegoro Dr. Nurul Hasfi dalam Forum Kebijakan dan Bimbingan Teknis Manajemen Krisis Perguruan Tinggi di Era Digital besutan HUMAS INDONESIA, Rabu (22/7/2026).
doc/PR INDONESIA

Universitas Diponegoro menerapkan komunikasi satu pintu berbasis data, koordinasi lintas unit, satu juru bicara humas untuk menjaga konsistensi pesan dan kepercayaan publik di kala krisis melanda.

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Komunikasi satu pintu menjadi salah satu strategi yang diterapkan oleh Universitas Diponegoro (Undip) dalam menghadapi berbagai krisis yang melibatkan sivitas akademika. Hal itu disampaikan Direktur Jejaring Media, Komunitas dan Komunikasi Publik Universitas Diponegoro Dr. Nurul Hasfi yang hadir mewakili Rektor Undip Prof. Dr. Suharnomo dalam Forum Kebijakan dan Bimbingan Teknis Manajemen Krisis Perguruan Tinggi di Era Digital besutan HUMAS INDONESIA, Rabu (22/7/2026).

Dalam acara yang berlangsung di Gedung Soebono Mantofani, Komplek Kantor Pusat Perum Peruri, Jakarta Selatan itu Nurul menjelaskan, setiap isu yang berpotensi menjadi krisis akan selalu dibahas terlebih dahulu melalui koordinasi lintas unit sebelum disampaikan kepada rektor dan publik. “Lalu, kami menunjuk juru bicara dari divisi kehumasan untuk menyampaikan pernyataan resmi, sehingga rektor maupun dekan dapat fokus pada penyelesaian substansi,” ujarnya.

Menurut Nurul, kecepatan merespons juga tidak boleh mengorbankan akurasi informasi. Respons yang terburu-buru tanpa didukung data justru akan menjadi backfire bagi institusi. Dalam hal ini, koordinasi lintas unit juga menjadi bagian penting. Katanya, itu bertujuan agar setiap narasi yang dikomunikasikan terpusat. “Ketika data yang dikumpulkan belum lengkap, maka yang harus dilakukan pertama adalah mengumpulkan data sebanyak-banyaknya dan memverifikasi data tersebut,” tegasnya.

Evaluasi dan Bangkit dari Krisis

Lebih lanjut, Nurul menekankan bahwa tidak ada satu strategi komunikasi krisis yang dapat diterapkan untuk semua kasus. Setiap persoalan memiliki karakteristik dan eskalasi yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan strategi komunikasi krisis yang adaptif dan evaluasi secara berkala dan berkelanjutan. “Dengan itu, respons yang diberikan tetap relevan dengan situasi yang dihadapi,” jelasnya.

Bagi Undip, kata Nurul, komunikasi krisis bukan sekadar merespons isu yang berkembang secara cepat, tetapi juga memastikan setiap keputusan dan pesan yang disampaikan lahir dari koordinasi internal yang kuat, data yang telah diverifikasi, dan komunikasi kepada publik melalui satu pintu. Pendekatan inilah, tandas Nurul, yang menjadi kunci menjaga kepercayaan publik di tengah meningkatnya kompleksitas isu di lingkungan perguruan tinggi. (Evira Anyelia)